Beranda > seni budaya > Refleksi

Refleksi


Cetusan Hati@Setengah abad usiaku

Maafkan aku Ibu

Terukir jiwa ragaku dalam rahimmu

Dengan kuasa Ilahi

benih yang tertanam dari Daddy mulai bersemi

Kau rawat dan kau jaga sepenuh hati

Berbagai asupan yang terkonsumsi, dan

Berbagai doa dan harapan yang kau panjatkan pada Sang Khalik

Memberi banyak arti

Untuk pertumbuhanku hingga kini

Selama sembilan bulan menghitung hari

Kau bawa diriku kemanapun kau pergi

pertumbuhan embryokupun semakin mendekati sempurna

dan seakan menambah susah gerakmu

semua Ibu jalani …

Dengan suka cita dan pasrah diri

Hingga saatnya diriku hadir di dunia ini

Tangis yang diiringi ucap syukur

Itulah hari aku mulai menghirup udara

Menambah hitungan jumlah penghuni

di atas bumi ini

Bukankah ini semua kehendak Ilahi?

Kau besarkan diriku dengan sepenuh jiwa

Kau bisikkan harapan yang luhur mulia

Derai canda tawa

tengarai suka ria

Juga isak tangis lara

pertanda sedih derita

Mewarnai perjalanan hidup ini

Kini …

di setengah abad usiaku

Dan kau Ibu ….

telah tunaikan janjimu di dunia ini

Kembali ke pangkuan Ilahi

Tinggalkan amanat yang telah terpatri

Untuk sebarkan kasih

seperti kau teladani

Dengan ikhlas setulus hati

Maafkan aku Ibu ….

karena amanat itu belum sepenuhnya kujalani

Betapa sulitnya mengindari

Menghitung untung dan rugi

Setiap kali akan berbagi

Dan betapa beratnya hati ini

Untuk menafikan ego diri

meskipun keinginan kuatΒ  untuk jalani

Seperti Ibu tunjukkan kepada kami

@@2@@

Iklan
  1. 7 Mei 2011 pukul 10:00

    Duhai ibu yang sangat baik dan bijak, ampunilah segala khilaf anakmu yg tak akan mugkin bisa membalas segala jasa2 mu..
    Salam…

  2. 7 Mei 2011 pukul 10:05

    Lagi-lagi ego, ego, dan ego. 😐

  3. Agung Rangga
    7 Mei 2011 pukul 15:21

    hiks, hiks…
    Puisi yang indah… πŸ˜₯

  4. 7 Mei 2011 pukul 22:16

    oh ibu….. sungguh aku tak bisa membayangkan ketika nanti usiaku sudah setengah abad,,, akankah aku juga akan seperti Bapak

  5. 7 Mei 2011 pukul 23:54

    Saya heran, belakangan ko’ banyak yang buat postingan Ibu ya? Apa hari Ibu sudah berganti?
    Btw, sastra yang bagus Mas!

  6. 8 Mei 2011 pukul 19:52

    ibu yg tak pernah menuntut kembali jasa2nya… Aku cinta mama, selamanya.

  7. 8 Mei 2011 pukul 23:51

    love you, Mom. 😐

  8. 9 Mei 2011 pukul 08:58

    di usianya yang semakin senja, saya justru makin menjauh darinya…
    maafkan anakmu ibu…

  9. 9 Mei 2011 pukul 20:09

    wow kang Ratansolomj ini dah setengah abad ya.. wah nglamak aku berarti manggil sampean Kang.. mulai sekarang aku panggil Om deh..

    Selamat ulang tahun Om.. semoga kita kelak bisa ketemu langsung ya

  10. 9 Mei 2011 pukul 20:41

    @ Blitu : Ya, tak mungkin kita bisa membalas segala jasa ibu.
    @ Asop : Hm .. Ego dan ego selalu membatasi gerak kita.
    @ Agung Rangga : Tak bermaksud membuatmu sedih …
    @ Kaget : Ya, Ibu memang selalu menginspirasi setiap insan di bumi ini …
    @ Ade Truna : Mama, How are you to day? πŸ™‚
    @ erwinaziz : I Love you too, Dear …
    @ Mabruri Sirampog : Meskipun jauh, tetapi tetap dekat di hati Ibu …
    @ Lozz Akbar : Tak majalah, mau dipanggil apapun tak bakalan berubah, hehehe …

  11. 9 Mei 2011 pukul 21:27

    Pak selamat bermillad, semoga di usia yang semakin beranjak ini rasa hormat kita pada sosok yang pernah melahirkan, menyusui, membesarkan dan menjadikan diri kita seperti sekarang ini tidak pernah berubah. πŸ˜‰

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  12. 11 Mei 2011 pukul 00:39

    Selamat hari lahir pak, semoga senantiasa dalam berkah dan rahmat-Nya. biar terlambat asal terucap itu menjadi kebahagian tersendiri bagi saya jika diterima πŸ™‚

  13. 11 Mei 2011 pukul 01:11

    @ Sugeng : Terima kasih Mas Sugeng, semoga kita semua tetap menghormati dan selalu mengenang jasa Ibu kita …
    @ AriPerwiraCom : Terima kasih Mas, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menerima ucapan Ultah, apalagi disertai dengan doa, tentu saya sambut dengan senang hati sambil berucap … Amin.

  14. 13 Mei 2011 pukul 01:15

    subhanallah, jadi inget mak di kampung, pak. untung saja kemarin saya barusan mudik dan sempat mencium takzim tangan beliau yang sudah mulai sepuh. matur nuwun, pak.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: