Beranda > seni budaya > Limbuk dan Cangik

Limbuk dan Cangik


Biyung Emban@karakter tokoh wayang

Dalam pagelaran wayang purwa, kemunculan dua tokoh emban ini selalu ditunggu oleh para pemirsa. Bukan karena pesona kecantikan atau kesaktiannya, melainkan kejenakaannya. Dua tokoh emban kerajaan ini menjadi daya tarik tersendiri setelah pemirsa disuguhi materi tontonan yang agak serius. Adegan Limbukan biasanya dilakukan setelah jejeran pertama Gapuran kemudian Sang Raja masuk ke dalam kedhaton. Pada adegan ini emban mengiringi sang raja dan permaisuri dalam jamuan makan.

Tidak seperti tokoh jenaka panakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang mempunyai latar belakang dan silsilah yang jelas. Untuk Limbuk dan Cangik tidak ada kejelasan mengenai silsilah kedua tokoh ini. Postur tubuh antara Limbuk dan Cangik digambarkan sangat bertolak belakang. Limbuk berbadan gemuk, nyaris bundar sedangkan Cangik kerempeng bak sebatang lidi. Limbuk berpenampilan genit, suka berhias dan setiap kali dimainkan tentu dalam adegan minta untuk dicarikan jodoh. Cangik sebagai emaknya pasti memberi nasehat agar Limbuk belajar lebih banyak dahulu mengenai ketrampilan seorang wanita, baru nanti dicarikan jodoh. Nada suara limbuk seperti laki-laki dengan vokal bariton.

Sumber gambar : artkimianto.blogspot.com/

Iklan
  1. 16 Maret 2011 pukul 08:40

    Saya dulu suka pewayangan mas.. waktu indosiar masih sering memutar pewayangan dari jam 12 malam sampe jam 5 pagi itu saya sering liahat… hehhe tapi itu ya ndak usah di kasih keterangan sekedar mengisi blog.. sedikit isi juga sudah bermanfaat bagi para pembaca mas…

    • 16 Maret 2011 pukul 14:00

      O ya mas, terima kasih atas koreksinya 🙂

  2. Arif Bayu
    16 Maret 2011 pukul 10:32

    wah sampean peduli banget mas akan budaya kita sebagai orang jawa ini yang perlu diwariskan & dijaga buat anak-anak cucu kita biar gak hilang ciri khas budaya kita….. salam sahabat dulur blogger

    • 16 Maret 2011 pukul 14:02

      Ya mas, cuma sedikit urun rembug,syukur jikaada manfaatnya …

      Salam persohiblogan 🙂

  3. 16 Maret 2011 pukul 23:38

    ya, pak, dua tokoh ini agaknya sekadar menjadi asesoris dan selingan di tengah2 pakeliran, meski kadang2 dua tokoh ini juga sering “dipaksakan” dalang masuk ke dalam bingkai cerita. yang saya sukai dalam adegan limbukan ini gending2 klasiknya, pak.

  4. 16 Maret 2011 pukul 23:46

    Ya benar pak, saya juga suka dengan gendhing2 klasik.
    Salam

  5. mabruri sirampog
    17 Maret 2011 pukul 07:45

    ini ni yang dicari,, nguri2 budaya,,,,
    semangat trs mas,,,,,

    • 17 Maret 2011 pukul 09:44

      Sekedar ikut meramaikan mas, tetap semangat!

  6. 17 Maret 2011 pukul 09:41

    Yaps!, semangat …

  7. 18 Maret 2011 pukul 13:29

    lha ini dia..
    adegan mereka selalu menghibur, penuh jenaka
    bdw.., ada mozaik asa di atas tiga roda
    silakan diintip Kang

    sedj

  8. 19 Maret 2011 pukul 14:10

    Negeri ini memang kaya dengan seni ya, salah satunya seni wayang, yang sarat dengan pesan

    • 20 Maret 2011 pukul 17:35

      Benar gan, wayang memang wahana komunikasi yang berupa tontonan sekaligus tuntunan sejak nenek moyang kita hingga sekarang.

  9. 19 Maret 2011 pukul 21:14

    wah dapat pengetahuan lagi tentang wayang nih saya hari ini.. piye Kang kalau limbuk dijodohin ma saya aja hehe

    met malem minggu Kang

    • 20 Maret 2011 pukul 17:42

      Wah saya rasa kurang cocok Kang, tar kalau jalan bareng layaknya angaka 10 … 🙂

  10. 13 Desember 2015 pukul 16:59

    HAPPY SUNDAY 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: