Beranda > seni budaya > MUSEUM RADYA PUSTAKA

MUSEUM RADYA PUSTAKA


Benda benda sejarah@wisata budaya

Museum Radya Pustaka konon merupakan museum tertua di Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Slamet Riyadi, kompleks Taman Sriwedari. Keberadaan museum ini seakan tersembunyi karena disamping kirinya berdiri bangunan megah yaitu Gedung Graha Wisata Kota Surakarta.

Museum yang didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 Masehi atau pada hari Selasa Kliwon tanggal 15 Maulud 1820 Ehe (tahun Jawa) ini menyimpan berbagai koleksi dari R.T.H. Djojohadiningrat II. Beliau adalah pemrakarsa Perkumpulan Paheman Radya Pustaka yang didirikan oleh K.R.A. Sosrodiningrat IV pada saat menjabat sebagai patih di masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana IX.

Di depan gedung, terpajang patung Ranggawarsito, pujangga terkenal keraton Surakarta. Patung ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 11 November 1953.

Dengan membeli karcis tanda masuk seharga Rp. 2500,00 per orang, kita dapat berkeliling sepuasnya untuk melihat-lihat benda-benda sejarah maupun benda pra sejarah. Di teras gedung kita akan menemukan koleksi arca dan meriam serta beberapa batu peringatan ulang tahun museum ini. Ada 3 ruang utama pada gedung ini. Di ruang pertama kita akan menemukan patung Sosrodiningrat IV sang pendiri museum tepat berada di depan pintu masuk. Di ruang utama ini kita akan menemukan berbagai macam koleksi wayang. Ada wayang gedhog, wayang purwo, wayang krucil, wayang golek, topeng, dan koleksi senjata.

Menyusuri lorong yang menghubungkan ruang pertama dengan ruang kedua, di sisi kiri kita akan menemukan ruangan yang menyimpan berbagai koleksi piring, gerabah, dan sebuah piala porselen yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Sri Susuhunan Paku Buwana IV.

Pada ruang di seberangnya, kita akan menemukan berbagai koleksi senjata pusaka berupa tombak dan keris, serta almari penyimpan keris. Di ruangan ini kita disuguhi pemandangan miniatur rumah-rumah penduduk pada jaman dahulu kala, mulai dari rumah rakyat biasa yang terbuat dari gedhek (anyaman bambu) hingga rumah pejabat berbentuk joglo.

Masuk lebih dalam kita akan menemukan ruang perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi buku sejarah dan di seberangnya terdapat ruangan yang ditutup di mana di dalamnya terdapat koleksi Relung Rambut Budha yang terbuat dari perunggu.

Memasuki ruang kedua, kita akan disuguhi koleksi gamelan lengkap untuk sebuah pagelaran wayang kulit. Melangkah ke kanan, tercium bau kemenyan dan dupa yang sangat tajam. Ternyata di sudut ruang terdapat benda paling disakralkan yang ada di museum ini, yaitu sebuah canthik (hiasan pada perahu) bernama Kyai Rajamala. Perahu ini dahulu kala merupakan alat transportasi khusus bagi pejabat istana yang dioperasikan di sepanjang alur Bengawan Solo . Konon jika terlupa membuat sesaji akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Di seberang ruang tempat Kyai Rajamala berada, ada sebuah ruang memorial kantor K.G. Panembahan Hadiwijdaja. Suasana di ruangan ini juga tak kalah mistisnya dengan ruang Kyai Rajamala, terbukti dengan adanya sesaji di dalam ruangan.

Di ruang kedua ini, selain gamelan kita akan menemukan berbagai benda-benda khas kraton. Ada tandu untuk mengangkut sesaji, alat transportasi tradisional, koleksi uang kuno, koleksi songkok raja dan para pejabat kraton, dan berbagai benda peninggalan lainnya.

Memasuki ruangan terakhir, terdapat miniatur Menara Sangga Buana yang terletak di Kraton Surakarta tepat di pintu masuk ruangan ini. Di sisi kiri kita akan menemukan miniatur Astana Imogiri, yaitu kompleks makam raja-raja Mataram, yaitu dari Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Di sebelah kanan kita akan menemukan miniatur masjid agung Demak. Di bagian belakang ruang ini kita juga akan menemukan berbagai koleksi arca peninggalan Hindu. Bila kita keluar ruangan, kita akan mendapati kantor pengurus museum ini serta beberapa sisa-sisa arca.

Walau terkesan sepi dan “singup” tetapi secara umum museum ini cukup menarik untuk dikunjungi sebagai alternatif bagi anda yang menyukai wisata budaya. Walau gedungnya merupakan bangunan tua dan terletak di antara kemegahan gedung-gedung lain di kompleks ini, tetapi gedung ini terlihat terrawat dengan baik.

Sumber gambar: ketikawaktuterbekukan.blogspot.com

Iklan
  1. 24 Februari 2011 pukul 13:50

    aku suka ke museum
    apalagi yang tradisional kaya gitu

  2. 24 Februari 2011 pukul 21:59

    wah aku kok pingin dolan kesana ya Kang…

    • 25 Februari 2011 pukul 05:53

      @ Julie : Silakan berkunjung, dijamin tradisional banget 🙂

      @ lozz akbar: silakan kang tar mampir ke gubug ane … 🙂

  3. 25 Februari 2011 pukul 11:45

    yang saya tahu dari museum ini:
    koleksi arca / patung pernah ilang ya…
    dicuri atau dipalsukan gitu..

    ironi, sebuah bangsa besar yang tak menghargai sejarah

    sedj

    • 25 Februari 2011 pukul 12:23

      Iya, itu berita buruknya Fren … memang sangat disayangkan.

  4. 25 Februari 2011 pukul 15:23

    tapi sekarang di indonesia sendiri museum sangat tidak diperhatikan, mungkin karena jenuh dengan benda-benda yang biasa saja,, namun jika kita lihat lebih dalam lagi, benda-benda tersebut justru malah memiliki nilai yang tinggi, dilihat dari sejarahnya..

    kapan-kapan ke museum ahh..

  5. 27 Februari 2011 pukul 22:10

    Ijin download gambarnya ya pak, untuk saya review di web saya yang bahasa inggris

  6. 18 Maret 2011 pukul 23:07

    wah saya sempatnya ke museum seni yang ada di Denpasar… bagus banget isinya

    cuman sepi 😦

    • 18 Maret 2011 pukul 23:19

      Ya,begitulah mas, memang belum banyak yang menyadari tentang pentingnya benda2 peninggalan bersejarah 😐

  7. 25 April 2016 pukul 09:54

    Reblogged this on Padamara88's Blog.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: