Beranda > seni budaya > Kau Sungguh Tega

Kau Sungguh Tega


Bambang Sumantri@Cerita Wayang II

Perang tanding di alun-alun Magada


Di alun-alun Magada, sudah siap menanti para penonton yang ingin menyaksikan jalannya perang tanding antara Sumantri dengan Prabu Harjuna Sasra. Para raja dari ratusan negeri berdiri membentuk lingkaran, di tengah lingkaran itu dua tokoh yang sakti akan saling memperlihatkan keperwiraannya.  Perang tandingpun segera dimulai. Di atas kereta perang, masing-masing saling menunjukkan kemahirannya dalam mengendarai dan melepaskan senjata panahnya..

Sumantri melepaskan satu demi satu senjata andalannya. Ketika panah itu di lepaskan ke udara, ada yang menampakkan perwujudan api menyala, naga yang siap memangsa musuhnya, dan burung Garuda menukik dengan paruh dan cakarnya siap menerkam. Semua yang menyaksikan peristiwa itu terkagum melihatnya. Namun senjata Sumantri yang telah dilepaskan, semuanya dapat ditanggulangi oleh Harjuna Sasra. Panas hati Sumantri, dengan tanpa berfikir panjang ia segera bersiap melepaskan senjata pamungkasnya Cakra. Demi melihat senjata larangan itu nekat juga hendak dilepaskan, meluap amarah Sang titisan Wisnu, Harjuna Sasra  bertiwikrama dan membesarlah tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar bukit. Tiada ampun lagi, dipegangnya Sumantri tanpa bisa berkutik. Ketika siap akan dihempaskan ke bumi, tubuh kecil dalam genggaman raksasa itu meratap mohon ampun. Luluh hati Harjuna Sasra, berubah lagi wujudnya menjadi manusia dan terlepaslah Sumantri dari ancaman maut. Dengan menyembah dan bersujud di hadapan Harjuna Sasra, Sumantri memohon pengampunan. Prabu Harjuna Sasra menerima permohonan ampun dari Sumantri selanjutnya akan menerima pengabdian Sumantri dengan satu syarat, yaitu Sumantri harus bisa memindahkan Taman Sriwedari yang ada di Gunung Untara ke Maespati, dalam keadaan utuh tanpa secuilpun berubah. Kemudian Prabu Harjuna sasra kembali ke pasanggrahan meninggalkan Sumantri tertegun mendapat tugas berat yang harus dilaksanakannya.

Datanglah sang penolong

Prabu Harjuna Sasra telah kembali ke negara Maespati dengan memboyong Citrawati dan semua putri domas serta raja-raja pengiringnya. Sementara Sumantri dengan tertunduk sedih meratapi nasibnya dan menyepi di tengah hutan.  Ia memikirkan bagaimana cara memindahkan taman Sriwedari ke Maespati. Sebenarnya pekerjaan itu akan menjadi mudah jika ada Sukasarana, adiknya yang sakti itu disampingnya. Tiba-tiba, hal yang tak dinyana Sukasarana datang menghampiri.

“ Kakang Sumantri …, mengapa kakang tinggalkan aku seorang diri …” , sapa Sukasarana.

Sumantri yang belum hilang rasa terkejutnya tak bisa menjawab pertanyaan adiknya itu.

“Mengapa kakang Sumantri bersedih hati … , menyendiri di hutan ini …, ada apa Kang …ayo katakan “ , desak si Sukasarana.

Sumantri menceritakan semua yang terjadi dan tugas berat yang harus ditanggungnya. Sukasarana menyanggupkan diri untuk merampungkan tugas memindah taman Sriwedari itu, asalkan Sumantri berjanji setelah pekerjaan itu selesai Sukasarana diperbolehkan ikut mengabdi di keraton Maespati. Tanpa pikir lagi Sumantri segera menyanggupinya. Deal!, Taman Sriwedari telah berpindah tempat di Maespati.

 

Tak sengaja panah itu terlepaskan

Kabar telah berpindahnya taman Sriwedar ke Maespati itu sampai ke telinga Dewi Citrawati. Maka dengan tidak sabar ia ingin segera masuk dan melihat keindahan taman itu. Kecut hati Sumantri bagaimana nanti jika tuan puteri mendapati adiknya yang berwujud “buta bajang” itu ada di sampingnya. Tentu akan terjadi kegemparan. Oh no!, maka Sumantri membujuk Sukasrana untuk pergi menjauh sebelum tuan puteri Citrawati berkeliling di Taman Sriwedari. Dengan lantang Sukasarana pun menolaknya dan dengan suara keras menuntut Sumantri untuk menepati janjinya. Maka untuk menakut-nakti adiknya supaya mau pergi meninggalkannya, Sumantri mengeluarkan busur dan mengarahkan anak panah ke tubuh adiknya itu. Sukasarana tak bergeming seincipun dari tempatnya karena ia memastikan kakaknya tak akan bersungguh-sungguh membidiknya. Memang demikian adanya, tetapi nasib berkata lain, entah apa yang menggerakkannya tiba-tiba saja anak panah itu melesat dari busurnya tanpa disengaja dan tak ampun lagi tubuh Sukasarana terhunjam anak panah, nyawanya melayang di tangan saudara kandung yang disayanginya. Belum habis rasa bingungnya akan keadan yangmenimpa adiknya itu, terdengar suara Sukasarana yang sudah menjadi sukma.

“ Tak kusangka kakang Sumantri …, kasih sayangku padamu kau balas dengan tindakan sekeji ini …, namun aku menyadari bahwa ini sudah menjadi takdirku …, pada saat perang dengan Alengka nanti, tibalah balasan untukmu…, dan kita akan bersama lagi di kehidupan Nirwana …”

Tak terbendung lelehan air mata Sumantri meratapi kematian Sukasarana. Ia menyesali atas perbuatan yang dilakukan terhadap adiknya.

Bambang Sumantri telah resmi diaterima pengabdiannya di Maespati. Bahkan oleh Harjuna Sasrabahu dianugerahi jabatan patih dengan nama Suwanda. Perjalanan hidup Sumantri akan berakhir seperti supata Sukasarana ketika ia berperang menghadapi Rahwana. Raja si angkara murka dari Alengka. (Selesai )

Iklan
  1. 25 Januari 2011 pukul 05:37

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    hanya berwal dari sebuah malu akan saudara yang buruk rupa, perbuatan itu terjadi….

  2. 25 Januari 2011 pukul 10:15

    ceritanya semakin mantab aja nich blog pewayangan!!!
    met sukses yach 😀

  3. 25 Januari 2011 pukul 13:05

    pertanyaannya : kenapa Sumantri tidak boleh pakai jurus Cakra? Apakah cakra sudah dipatenkan oleh Wisnu?
    Siapa saja yang boleh menguasai jurus panah Cakra?

    🙂

    • 29 Januari 2011 pukul 08:30

      Benar Mas Sakti, yang punya hak patent menggunakan dan memiliki Cakra memang titisan Wisnu. Jadi selain mereka ya ndak ada yang boleh menguasai jurusnya … 🙂

      Salam sukses

  4. 25 Januari 2011 pukul 17:46

    sunguh sangat ironis sekali, 😦

  5. 26 Januari 2011 pukul 01:51

    kisah pewayangan selalu saja menyuguhkan petualangan batin yang dahsyat, pak. ada banyak nilai, baik yang eksplisit maupun lewat pasemon. lakon ini pun tak kalah dahsyatnya.

  6. 26 Januari 2011 pukul 08:13

    tidak menerima kekurangan adiknya, ..

    salam 🙂

  7. 26 Januari 2011 pukul 22:03

    Semoga kita semua bisa belajar banyak dari kisah pewayangan yang sangat penuh pesan moral ini…bagaimanapun ini adalah aset bangsa yang harus kita jaga kelestariannya..supaya tetap menjadi identitas bangsa…

  8. 27 Januari 2011 pukul 02:10

    kematian yang sangat tragis. mungkin sebelumnya si kakak itu minum anggur merah.

  9. 27 Januari 2011 pukul 07:07

    orang bajang yang setia
    saudaranya malu karena kondisinya
    mirip kisah narasoma (salya)
    malu pada bagaspati mertuanya
    karena berwujud buta bajang

    kisah yang tak pernah bisa dilupakan mas
    thanks atas kisah indahnya, salam sukses..

    sedj

  10. joe
    27 Januari 2011 pukul 13:59

    wayang adalah warisan kebudayaan yang penuh dengan nasihat bagi kita..

  11. 28 Januari 2011 pukul 00:53

    Kang kalau boleh tahu sampean apa ada keturunan dalang? kok keliatannya fasih banget kalau cerita wayang??

    • 28 Januari 2011 pukul 02:21

      Enggak sih, cuma seneng aja … dari kecil saya suka dengerin wayang kulit, juga baca2 komik wayang (R. Kosasih) 🙂

  12. 28 Januari 2011 pukul 08:02

    ada dalang nih ceritanya,,hehe saya mau jadi rahwana,,raja angkra murka,,^^

  13. 28 Januari 2011 pukul 08:41

    hikmahnya : bahwa saudara kandung itu akan lebih perduli walau kondisi mereka terkadang ga sesuai yang kita harapkan …

    saya suka cerita ini sayangnya sekarang cerita wayang sudah tergerus dengan musik-musik yang ga ada didikannya sama sekali

    Lanjuttttt kang….

  14. 28 Januari 2011 pukul 11:46

    keren nih ceritanya kang
    tapi sad ending 😦

  15. 28 Januari 2011 pukul 11:48

    Salam persohiblogan
    Maaf sahabat, saya baru sempat berkunjung lagi
    Ini pun memanfaatkan waktu yang sangat singkat

    Jadi mohon maaf jika hanya sempat menyapa
    Dan tak sempat baca-baca dengan seksama 🙂

    Salam persahabatan dari Bogor
    Achoey el Haris

  16. 28 Januari 2011 pukul 20:25

    Ikutan mendengarkan dan membaca pitutur sang dalang 😆

  17. 29 Januari 2011 pukul 12:26

    mohon ijin nyundul wayang gan… 😀

  18. 29 Januari 2011 pukul 12:26

    update lagi wayangnya gan 😀

  19. 29 Januari 2011 pukul 12:52

    Kisah tragis yang memilukan hati..namun hukum karma akan tetap berjalan apa adanya.

  20. 29 Januari 2011 pukul 12:59

    Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita klasik ini.
    SALAM hangat dari Kendari.

  21. 30 Januari 2011 pukul 14:15

    Apa pelajaran yang kita petik dari Sumantri…? Seorang Mahapatih dari Maespasti..
    1.Dia Berani Bertanding dan Berperang Dengan Rajanya….( Ketika dia Merasa dan Berfikir Bahwa Rajanya tidak sesakti dia )
    2.Dia menyanggupi apapun permintaan Rajanya ….Padahal itu adalah bentuk penolakan halus
    3.Dia Malu Punya Keluarga yang berwajah buruk.
    4.Apapun itu alasannya dia telah tidak sengaja membunuh adik satu satunya.
    5.Yang penting punya jabatan…entah itu bagaimana caranya.

    Coba kita lihat orang orang sekarang ini..!

  22. 31 Januari 2011 pukul 12:40

    Kang, ada lanjutan kisah Dasrun disini
    http://sedjatee.wordpress.com/2011/01/31/dasrun-lunasi-atau-pergi/
    silakan dicermati
    salam sukses..

    sedj

  23. 2 Februari 2011 pukul 09:07

    Mulai hari ini ada Kuis Bang Aswi … ^_^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: