Beranda > seni budaya > Buah Cinta yang Terlarang

Buah Cinta yang Terlarang


Wisrawa@Cerita Wayang

Prabu Sumali dan Dewi Sukesi

Alkisah dinegeri Alengka, Prabu Sumali sedang memikirkan puterinya Dewi Sukesi, yang sudah beranjak dewasa tetapi belum mempunyai pendamping dalam hidupnya. Sebenarnya sudah tak terbilang banyaknya para ksatriya yang meminang sang puteri, tetapi tidak satupun pinangan itu yang diterimanya. Apakah para satriya itu tidak memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan oleh Dewi Sukesi? Apakah syarat pinangan itu terlalu berat?

Syarat utama supaya pinangannya diterima bukanlah pemberian harta berlimpah dan uang mas dan perhiasan-perhiasan berlian indah dan mahal atau mas picis rajabrana. Bukan pula pemberian tanah yang luas atau real estate, bukan pula kedudukan serta kekuasaan.

Sourc image from DevianArt

Sastrajendrahayuningrat

Syarat utama pinangan yang diajukan Sang Dewi adalah barang siapa yang dapat mempresentasikan secara pas dan gamblang sebuah kitab yang berjudul Sastrajendrahayuningrat. Meskipun hanya sebuah kitab, tapi kitab yang satu ini bukanlah perkara yang baen-baen. Sastrajendra adalah ngelmu sejati, pengetahuan spiritual yang hanya diperuntukkan para dewa. Sudah barang tentu tidak banyak orang tahu, bahkan mendengar judulnya pun belum pernah. Para pelamarpun dengan perasaan kecewa berat pulang dengan tangan hampa. Namun karena Prabu Sumali adalah raja yang bijaksana, dengan santun beliau memberi pengarahan kepada para pelamar sehingga mereka tidak dihinggapi rasa sakit hati. Para pelamar juga bertekat kembali lagi setelah berguru atau mencari referensi mengenai kitab itu di perpustakaan seantero negeri. Kalau sekarang mungkin dengan browsing di internet tanya sama Mbah Google ya ….

 

Begawan Wisrawa

Sementara itu di kerajaan Lokapala, baru saja menobatkan putra mahkota menjadi raja baru. Raja yang baru diwisuda adalah Raja Danaraja, menggantikan ayahandanya yang lengser keprabon – dengan sukarela turun tahta. Raja yang turun tahta itu ialah Wisrawa. Sebenarnya belum begitu tua usianya, namun karena lebih ingin menekuni jalur spiritualitas, ingin membersihkan jalan kehidupannya dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan mengamalkan pengetahuan spiritualnya kepada sesama mahluk Tuhan. Ia merasa terpanggil madeg pandita. Wisrawa telah digembleng jiwanya, ia telah menguasai kesejatian hidup, ia adalah salah satu manusia yang menguasai ilmu Sastrajenda.

Namun sebelum dia madeg pandita masih ada satu tugas terakhir yang harus dituntaskan, yaitu menikahkan Danaraja, anaknya belum mempunyai pendamping atau permaisuri. Maka disaat yang dirasa tepat, Begawan Wisrawa memanggil Danaraja untuk berbicara serius tentang calon permaisuri. Raja Danaraja belum mempunyai pandangan yang jelas tentang sosok yang ingin dijadikan permaisuri. Begawan Wisrawa memberikan wawasan bahwa di negeri Alengka ada puteri yang sedang kondang namanya Dewi Sukesi, cantik jelita, puteri Prabu Sumali. Kebetulan Begawan Wisrawa kenal baik dengan raja Alengka itu. Menyimak dari paparan Begawan Wisrawa,  Danaraja menurut kepada nasihat ayahandanya yang sangat dihormati dan dia percaya pilihan ayahnya tentu yang terbaik baginya. Sekaligus Danaraja memohon ayahandanya untuk berkenan melamar puteri raja Alengka itu untuk disandingnya.

 

Lamaran

Berangkatlah Begawan Wisrawa sebagai delegasi yang ditunjuk raja Lokapala, untuk melamar puteri raja Alengka. Dengan santun Begawan Wisrawa mengutarakan maksud kedatangannya di hadapan Prabu Sumali. Bahwa ia sebagai utusan untuk melamar Dewi Sukesi. Dengan sopan pula Prabu Sumali menanggapi maksud kedatangan Begawan Wisrawa, diutarakannya persyaratan khusus untuk melamar puterinya. Dan dengan rendah hati Begawan Wisrawa mengatakan bahwa ia menguasai ilmu itu dan bersedia untuk memberi wejangan tentang Sastrajendra pada Dewi Sukesi. Begawan Wisrawa juga mengajukan syarat untuk pelaksanaan wedaran ilmu itu memerlukan tempat khusus yang steril dari gangguan (sekarang mungkin kamera tersembunyi atau alat penyadap). Prabu Sumali menyanggupi dan menseyogyakan agar segera dilaksanakan wedaran ngelmu Sastrajendra, lebih cepat lebih baik.

 

Wejangan Wisrawa kepada Dewi Sukesi

Audiensi atau wejangan berlangsung di tempat sesuai syarat yang diajukan Begawan Wisrawa. Di sebuah ruangan beralaskan permadani Begawan Wisrawa duduk berhadapan dengan Dewi Sukesi. Mereka hanya berdua duduk bersila di ruangan sepidan dingin itu. Pada awalnya wejangan berlangsung dengan serius. Wisrawa menggunakan susunan kalimat yang enak dan mudah dicerna, Dewi Sukesi yang mendapat wejangan itu sesekali menyela pertanyaan dengan  cerdas. Dari mutu pertanyaan itu Wisrawa dapat menilai bahwa sebenarnya Sukesi sudah tahu isi dari Sastrajendra, sehingga acara yang semula bertajuk wejangan Sastrajendra itu berubah menjadi dialog interaktif tentang Sastrajendra. Suasana kekakuan lambat laun berubah menjadi luwes, diselingi saling curi pandang dan senyuman, menandak anada ketertarikan diantara kedua insan yang berbeda jenis itu. Sukesi mengagumi pria di depannya yang bertutur kata dengan lembut menawan, diringi dengan gerak tangan untuk mempertegas pemahaman, Raut wajahnya yang ganteng dan sorot mata yang diarahkan padanya mengandung magnet untuk menariknya masuk dalam pelukan di dada yang bidang itu. Dalam hati dia berkata, “Belum pernah aku bertemu, dengan pria yang tampan dan sekaligus pintar seperti ini”.

Di sisi lain Wisrawa juga bergumam dalam hati,

“Ah, belum pernah aku bertemu gadis secantik ini, wajahnya elok bercahaya, tubuhnya indah, tutur kata lemah lembut dan manja.Oh alangkah bahagianya bila aku bisa membelainya”.

Pemaparan ilmu Sastrajendra baru pada tahap pengantar, tetapi suasana ruangan yang dingin itu menjadi panas oleh kobaran api asmara. Tidak ada lagi batas diantara keduanya. Atas nama nafsu, etika, susila, dan kesopanan dilanggarnya.

 

Buah cinta terlarang

Akibat tidak terkendalinya nafsu ragawi, Begawan Wisrawa telah melenceng dari arah tujuan semula yang sedianya datang sebagai calon mertua malah berbalik arah menjarah keperawanan calon menantunya.

Hubungan cinta ragawi Wisrawa dan Sukesi yang semata hanya dilandasi nafsu, dikisahkan menghasilkan buah yang sepadan. Lahirlah anak pertama yang melambangkan nafsu amarah yang menyala-nyala yaitu :

Dasamuka, raksasa besar yang mengerikan, mukanya sepuluh, berwarna merah bagai api, wataknya jahat sekali, hanya mengedapankan nafsu.
Kumbakarna, putranya yang kedua, raksasa besar, kulitnya hitam, melambangkan nafsu makan dan doyan tidur yang berlebihan.
Sarpakenaka, anak ketiga, perempuan raseksi. Wataknya juga jahat, suka iri.  Mukanya jelek berwarna kuning suka bersolek dan olah asmara yang berlebihan. Melambangkan nafsu kepada harta duniawi.
Gunawan Wibisana, putra keempat berupa manusia.Satria yang berwajah tampan, berkulit putih pucat. Ini perlambang senang kepada laku tirakat, hidup sederhana dan menjalani kehidupan spiritual.
Rupanya baru pada waktu”pembuatan” anak yang keempat, mereka sadar kembali dan melakukan hubungan kasih yang dilandasi kepada norma-norma Asmaragama yang mulia, maka lahirlah Gunawan Wibisana, satria jujur, baik hati dan selalu memihak kepada kebenaran.

Iklan
  1. 11 Januari 2011 pukul 04:54

    saya akan selalu menyimak kisah serupa di blog ini
    kisah wayang selalu memukau, Kang
    babak awal kisah Ramayana yang masyhur..
    lanjutkan kisahnya ya… salam sukses

    sedj

    • 11 Januari 2011 pukul 07:46

      Ma kasih Kang, salam sukses juga … 🙂

  2. 11 Januari 2011 pukul 05:00

    nice story kk. 🙂
    ditunggu lanjutan ceritanya 🙂

    • 11 Januari 2011 pukul 07:39

      Ma kasih atas atensinya … akan segera di proses 🙂

      Tukeran link, boleh … boleh … 🙂

      • 11 Januari 2011 pukul 08:46

        masuk2… ditunggu ya critanya. btw tukeran link yuk bos. ditunggu kabar baiknya ya 🙂

  3. 11 Januari 2011 pukul 07:19

    Indah cara menyampaikannya saya sukaaaaa….

    • 11 Januari 2011 pukul 07:41

      Ma kasih … semoga dapat bermanfaat

      Salam

  4. 11 Januari 2011 pukul 09:10

    wah dalm kehidupan nyata juga gitu ya pak .. tidak boleh berhubungan atas dasar nafsu, coz anaknya bisa jahat seperti raksasa itu …

    makasih pak 🙂

    • 11 Januari 2011 pukul 18:58

      Yaps. kalau dengan suami sendiri boleh nafsu, doong … 🙂

  5. 11 Januari 2011 pukul 11:21

    1, 2 dan 3 masih buah cinta yg terlarang
    anak ke 4 baru OK

  6. 11 Januari 2011 pukul 12:32

    wah cerita ini penuh dengan ajaran yang berarti
    sebuah hubungan yang dilandasi ikatan pun ternyata tak luput dari hasil yang buruk bila diawali dengan nafsu saja ya mas?

    good post!

    • 11 Januari 2011 pukul 18:54

      Bena sekali, diajeng … 🙂

      • 14 Januari 2011 pukul 11:48

        ditunggu cerita barunya kangmas 😀

      • 14 Januari 2011 pukul 22:21

        Ya, sabar ya diajeng … 🙂

  7. 11 Januari 2011 pukul 15:38

    Weh…
    Ada cerita wayangnya juga.
    Saya suka kalau bicara soal wayang, karena dulu kakek saya punya wayang 3 kotak.
    Sayang nggak ada yang melanjutkan karena kakek saya anaknya perempuan semua.
    Akhirnya dijual…
    Saat itu saya masih kecil.
    Tapi kalau tentang wayang, saya masih paham.
    Untuk ukuran sekarang malah kelewat paham kayaknya, karena jaman sekarang makin jarang yg peduli wayang

    • 11 Januari 2011 pukul 18:53

      Wah, sayang ya ga ada yang melanjutkan …

    • 14 Januari 2011 pukul 11:50

      saya juga suka cerita pewayangan pak 😀

      • 14 Januari 2011 pukul 22:34

        Bagus, semoga banyak lagi yang menyukai kisah pewayangan seperti anda … 🙂

  8. 11 Januari 2011 pukul 19:34

    wow kang top banget critane.. wah nambah pengetahuan lagi aku tentang wayang nih… matur nuwun kang.. besok lanjut lagi dalange yo

    • 11 Januari 2011 pukul 20:07

      Sama-sama Kang, sekedar berbagi cerita … 🙂 Tanks

  9. 11 Januari 2011 pukul 20:36

    Aku tunggu cerita2 berikutnya

  10. 11 Januari 2011 pukul 21:08

    bahaya hehehehehehe……………..

  11. 'Ne
    11 Januari 2011 pukul 22:18

    sesuatu yg di awali dengan keburukan hasilnya juga tidak baik ya..

  12. 11 Januari 2011 pukul 22:21

    Yups! benar sekali Non Ne … 🙂

    Salam Sukses Selalu

  13. 12 Januari 2011 pukul 10:02

    selamat pagi…!
    pagi yang cerah untuk berkunjung ketempat sahabat.
    Semoga hari ini lebih menyenangkan dari hari kemarin…

    • 12 Januari 2011 pukul 10:47

      Pagi juga sobat, terima kasih atas kunjungannya …

  14. 12 Januari 2011 pukul 10:37

    Cerita yg luar biasa, saya yg awalnya tidak tau menjadi tau.
    Ternyata rahwana itu punya orang tua yg sangat bertakwa. Dari cerita ini saya dpt pelajaran yg sangat berharga. Sukses Mas. . Salam rahayu. .

    • 12 Januari 2011 pukul 10:46

      Begitulah sob, sukses juga untuk anda … 🙂

      Salam rahayu

  15. 12 Januari 2011 pukul 19:42

    Perlu dilestarikan cerita wayang seperti ini… 🙂 Dengan blog kita-pun bisa mendalang.. Semoga sukses selalu kawan…

    • 12 Januari 2011 pukul 20:01

      Trims, atas atensinya
      Sukses juga untuk anda

      🙂
      Salam

  16. 13 Januari 2011 pukul 19:24

    doh, begawan wisrawa, sungguh tak sehebat predikat yang disandangnya. menyaksikan kemolekan si sukesi, iman pun digadaikan. ternyata tabiat ortu akan sangat berpengaruh pada tabiat anak keturunannya.

    • 13 Januari 2011 pukul 19:31

      Benar pak, Selama masih doyan nasi ternyata manusia memang rentan terhadap segala jenis godaan … 🙂

      Salam Sukses

  17. 13 Januari 2011 pukul 20:07

    Semuanya menggambarkan harus seperti apa jalinan cinta iru harus diwujudkan…

    • 13 Januari 2011 pukul 20:31

      Betul, bli … 🙂

      Salam sukses dari Solo

  18. 14 Januari 2011 pukul 16:48

    jadi tidak semua buah jatuh dekat pohonnya. doakan pakdhe, supaya buah cinta saya semuanya tidak terlarang,

    termurah?

    • 14 Januari 2011 pukul 22:20

      Ok, tentu saya doakan …
      🙂
      Salam

  19. 15 Januari 2011 pukul 20:23

    Begawan-begawan wisrawa sepertinya juga bertebaran di bumi nusantara ini.

    Salam kekerabatan.

  20. 17 Januari 2011 pukul 00:24

    mantab sob, cerita pewayangannya 😀

  21. 17 Januari 2011 pukul 00:25

    mantab sob ceritanya 😀

  22. 20 Januari 2011 pukul 17:45

    cocok juga dibuat novel,,,alur cerita dan penulisan yang menarik

    • 20 Januari 2011 pukul 20:17

      Terimakasih atas atensinya, semangath …:)

  23. 22 Januari 2011 pukul 23:10

    update lagi sob…. 😀

  24. 2 Desember 2015 pukul 20:54

    Reblogged this on Ratansolomj9's Blog.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: