Beranda > seni budaya > H I K (Hidangan Istimewa Kampung)

H I K (Hidangan Istimewa Kampung)


Solo yang tak pernah tidur@wisatata Kuliner

 

Bagi warga Solo, HIK bukanlah hal yang asing. Hidangan khas yang mewadahi semua lapisan masyarakat tanpa membedakan satatus dan kelas. Di Hik juga bisa terjalin komunikasi yang merakyat. Dari masalah politik sampai perselingkuhan selebritis, dari melambungnya harga sembako hingga liku-liku penerimaan CPNS, bisa menjadi bahan diskusi yang hangat, sambil menikmati minuman tradisional jahe gepuk dengan jajanan ala kadarnya, tak terasa hingga larut malam.

Bagi kawula muda, HIK juga sering menjadi tempat kencan yang murah meriah. Saat malam minggu pedagang HIK sering menggelar tikar panjang, hingga puluhan meter di kiri kanan warungnya. Hanya dengan merogoh kocek tidak sampai puluhan ribu sudah bisa ngobrol sepuasnya dengan pacar sambil menikmati hidangan khas HIK.

Hik merupakan hidangan khas yang menggelar dagangan pada petang hari hingga larut malam. Tersedia aneka makanan kecil (bakwan, pisang goreng, jadah, wajik, dll), nasi bungkus (sega kucing), lauk (puyuh goreng, sate kikil, wader, tempe mendoan, tahu bacem, dll). Yang khas di HIK adalah para pembeli boleh meminta apapun makanan yang dipilihnya, untuk dihangatkan dengan cara dibakar, asyiik kan …

 

Silakan sobat semua mencoba mampir di HIK, jika sedang travelling di SOLO.

Sourch Image arie1987.wordpress.com

Iklan
  1. 8 Desember 2010 pukul 12:49

    Habis makan, glegeken… Hiiiikkkkk….
    Wilujeng warsa enggal, pak. Ngaturi pirsa bilih sakpunika griya kula ing http://ekoph.com
    Matur nuwun.

  2. 8 Desember 2010 pukul 15:25

    Hm.. makanan – makanan asli dari desa – desa emang enak – enak ya.
    karena bebas dari sentuhan teknologi. Proses pembuatannya yang konvensional membuat ciri khas makan tetap terjaga dan cita rasanya pun lebih kerasa 🙂

  3. 8 Desember 2010 pukul 19:34

    kalo saya benar, sekitar tahun 2006 saya tinggal di komplek pucangan solo….jadi teringat kembali kenangan masa itu…
    maka nasi kucing lebih dari sebungkus karena memang satu mah kurang….sekitar 3 bungkus baru kenyang… hik! :mrgreen:

    • 9 Desember 2010 pukul 09:59

      Mungkin Pucangsawit ya Mas … deket Kampus UNS

      Salam

      • 14 Desember 2010 pukul 12:46

        bukan mas, pucangan baru depan asrama militer apa ya? jalur selatan jalan raya jogya solo…

      • 14 Desember 2010 pukul 13:42

        O ya Mas, deket asrama Kopasus. Tanks

  4. 8 Desember 2010 pukul 21:32

    wilujeng dalu mas…..
    malah dadi kelingan nalika isih kuliah neng ISI surakarta wae. nengarep pendapa pass lokasine. ntar kalau aku ke jawa kita ketemu yaaaaaaaa
    salam rahayu

    • 9 Desember 2010 pukul 09:57

      Ok Mas, tar kalo ke Jawa kita nge HIK sepuasnya … heheheh …

      Salam rahayu dari Solo

  5. 9 Desember 2010 pukul 06:59

    kunjungan politik…!
    link anda sudah saya pasang, terima kasih 🙂

    • 9 Desember 2010 pukul 09:56

      Oke Politik, asal ngumpul itik-itik … wkwkwk

      Ma kasih atas sudah terpasang link saya

      Salam dari Solo

  6. 9 Desember 2010 pukul 11:44

    solo itu adalah tempat kelahiran alm ayahku
    tapi aku gak pernah ke sana hehehe

    • 9 Desember 2010 pukul 12:14

      Sekali-kali ke sini (Solo) dong …

      Salam dari Solo

  7. 9 Desember 2010 pukul 15:08

    wah…..jadi pengen ke Solo…..
    mampir ke Hik….

  8. 9 Desember 2010 pukul 15:51

    malam minggu esok ku kan kesana …. klo dari jakarta naik angkot nomr berapa ??? 🙂

  9. 9 Desember 2010 pukul 16:06

    Aduh mpok, bisa aje …he..he…he

  10. 9 Desember 2010 pukul 17:26

    Nasi bungkus dan bakwan yang anget-anget pas banget dimakan saat gerimis kek gini

    • 9 Desember 2010 pukul 17:38

      Wah, sama dong….
      Di sini juga lagi grimis, makan bakwan anget nak … nan …

  11. 9 Desember 2010 pukul 18:14

    Wah…, warung ‘HIK’, ya? Sego kucing…!
    Jadi inget semasa kuliah dulu.

  12. 9 Desember 2010 pukul 19:27

    Omong2 soal kuliner mas Haris,

    Sate mbok Galak masih buka? Juga soto jl ke Mojosongo kanan jalan dari Solo kearah Semarang?
    Martabak Pasar Gede kalau beli masih pakai kupon nomer antrian? Ayam tim goreng Bu Beter yang di Solo kok kalah jauh dengan yang di Palur.
    Tengkleng depan pasar Klewer masih antre kalau mau beli?

    • 9 Desember 2010 pukul 20:45

      Wah, Eyang Kung rupanya kuliner hunter sejati …

      Kapan huntingkeSolo lagi?

      • 15 Desember 2010 pukul 23:40

        Lho itu kenangan lama selama saya berdomisili di Solo 5 th. Karena saya tidak bisa mengendalikan diri…… hadiiahnya ialah STROKE. Maka hati2 jangan menjadi hunter kuliner seperti kata mas Haris tadi OK
        Untuk temen2 hati2lah soal menu makan

  13. 9 Desember 2010 pukul 19:28

    jadi pingin pergi ke Solo, boleh ya Mas.., soalnya belum pernah sama sekali jalan-jalan kesana

    SALAM hangat dari Kendari.. 8)

    • 9 Desember 2010 pukul 19:36

      ya..kayaknya asyik sekali bisa jalan-jalan ke kota Solo..
      Salam dari kota lulo Kendari… 8)

      • 9 Desember 2010 pukul 20:51

        Ini Blog bliTu juga kan …
        Mantab!

    • 9 Desember 2010 pukul 20:50

      Ok, Dok … saya siap jadi Guide lho …

      Salam dari Solo

  14. 10 Desember 2010 pukul 09:02

    kalo ditempatku alias pati mungkin tempat semacam ini lebih dikenal dengan sebutan warung Nasi Kucing Pak. 😀

    • 10 Desember 2010 pukul 09:11

      Yaps! warung gaul … kan.

      Terimakasih

  15. 10 Desember 2010 pukul 10:05

    disini juga ada, nasi kucing, dan gorengan-gorengan,
    memang murah meriah, untuk makan di malam-malam,
    ada pisang rebus, ada telor asin, hehe..
    pokoknya meskipun seadanya tapi nikmat.
    Bali Villas Bali Villa

    • 11 Desember 2010 pukul 22:10

      Wah …,coment anda barusan dikeluarin dari pos satpam … hehehe
      Asyik dong… kalo disana juga ada HIK …

  16. 11 Desember 2010 pukul 02:10

    wuigh.. jadi lapar nih baca tulisan ini..

    salam hangat dari Jember

  17. 11 Desember 2010 pukul 08:39

    mauuuu
    minta donk saya 😀

  18. 11 Desember 2010 pukul 22:59

    solo selalu bikin saya kangen, mas bambang. di warung angkringan alias hik seperti ini yang bener2 bisa merakyat, tanpa ada embel2 status sosial. bener2 egaliter.

    • 11 Desember 2010 pukul 23:53

      YUPS! setuju Pak. Silakan kapan-kapan nge hik di Solo …he .. he

  19. 20 Desember 2010 pukul 06:20

    HIK …penasaran jadi pengen kesana….

  20. 20 Desember 2010 pukul 12:07

    owhh.. angkirngan toh.. saya suka beli nih.. terutama kalo tanggal tua.. murah soalnya.. haha.. 😀

    • 20 Desember 2010 pukul 12:54

      Mari…mari silakan beli non, hehehe ..

  21. 23 Desember 2010 pukul 06:30

    Nasi kucing…. 😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: