Beranda > seni budaya > JANGAN PANGGIL AKU SAHABAT

JANGAN PANGGIL AKU SAHABAT


Bambang Kumbayana@Kisah Wayang II

Setelah melakukan perjalanan yang berat bersama anaknya, sampailah Bambang Kumbayana di kerajaan Cempalaradya. Dia segera saja memasuki istana tanpa tatacara dan adat yang semestinya, bagi seorang tamu yang akan menghadap raja. Sikap Bambang Kumbayana seperi itu, dilandasi rasa percaya diri karena ia merasa kenal akrab dengan Sang Raja yaitu Bambang Sucitra, sekarang bergelar Prabu Drupada. Seenaknya ia nyelonong di balairung istana, di mana Prabu Drupada sedang berwawansabda dengan para nayakapraja. Begitu dilihatnya sahabatnya itu, Bambang kumbayana tak bisa menahan gejolak hatinya dan berteriak-teriak sejadinya dari kejauhan.

“ Hai Sucitra!, Sucitra! … Wah keren deh, kamu sekarang …he..he ..he … ” , sapa Bambang Kumbayana.

Kaget seisi Istana mendengar suara lantang itu, terlebih lagi Prabu Drupada. Ia merasa tidak enjoy dipanggil seperti itu dihadapan para punggawanya. Meskipun ia mengenali Bambang Kumbayana sebagai saudara angkat dan murid seperguruan Resi Baratwaja, ia menganggap tidak pada tempatnya jika Bambang Kumbayana berperangai seperti itu. Prabu Drupada tidak bereaksi alias tak menggubris sapaan sahabatnya itu. Melihat sahabatnya tidak bereaksi, Bambang Kumbayana menambah energi teriaknya lebih lantang lagi.

“Hai Sucitra! Ini aku … sahabatmu! ..Kumbayana …wah …lupa ya, mentang-mentang sudah jadi raja!”

Kali ini yang tidak bisa mentolerir sikap Bambang Kumbayana adalah Pepatih kerajaan, ialah Patih Gandamana. Melihat tamu yang tidak tahu adat dan sopan-santun itu, Patih Gandamana tak kuasa menahan amarahnya. Dan ia merasa berkewajiban memberi pelajaran bagi tamu yang tidak tahu aturan. Maka tanpa basa-basi diseretnya Bambang Kumbayana keluar istana. Setibanya di halaman, dengan mengerahkan segala kesaktian dihajarnya bertubi-tubi tanpa ampun lagi.

“ Inih! (Bug!, Dipukul perutnya)  … rasainh! ( Dhies!, Ditonjok hidungnya)… biar kapokh! (kreteek! Ditendang tengkuknya) .. mamphuslah! (prak! Dipatahkan lengan kirinya)” Demikian kira-kira aksi sepihak yang dilakukan oleh Patih Gandamana. Dan Dari beberapa aksi yang dilakukan itu, alhasil rusaklah wajah dan tubuh Bambang Kumbayana. Hidung mancungnya kini bengkok, tubuh tegapnya kini jadi terbungkuk, dan tangan kirinyapun patah. Dengan keadaan serba memelas Bambang Kumbayana melangkah terseok-seok, pergi meninggalkan istana. Hilang sudah kini ketampanannya. Dendam kesumat merajam di hati, tidak terima atas perlakuan sahabat yang diam seribu bahasa ketika Patih Gandamana menghajarnya. Ia bertekat kelak akan membalas dendam atas perlakuan sahabatnya. Untung dalam keadaan seperti itu ada orang yang sudi menolongnya. Bambang Kumbayana dirawat hingga sembuh, meski tidak dapat pulih seperti sediakala. Orang baik hati, yang menolong dan merawat ketika ia terluka bersama anak satu-satunya,  ialah Resi Krepa.Bahkan berkat pertolongannya, bambang Kumbayana dapat menjadi seorang Maha guru di Hastina Pura. Namanya kini menjadi Resi Durna. Resi Durna menjadi guru dari putra-putra Prabu Pandhu yaitu Pandhawa, dan guru bagi putra-putra Dhestarastra ialah Kurawa. Kelak resi Durna dapat membalaskan dendamnya dengan memanfaatkan jabatannya itu. Bahkan menguasai sebagian wilayah kerajaan Cempalaradya, untuk dijadikan padepokan namanya Sokalima. Dari sekian banyak muridnya, hanya satu yang paling dikasihi, kepadanya segenap ilmu memanah diwariskannya. Nama murid kesayangan itu ialah Harjuna. Dikisahkan pada suatu ketika Harjuna komplain terhadap Resi Durna karena ada satriya yang lebih lihai memanah dibanding Harjuna, padahal Resi Durna menjanjikan bahwa Harjuna kelak menjadi pemanah paling mahir dibanding semua muridnya. Nama satriya itu adalah Ekalaya. Ia dapat memanah dengan tujuh anak panah sekaligus tepat sasaran. Akhirnya dengan berbagai tipu-daya dan dengan teganya Resi Durna meminta Ekalaya menyerahkan ibu jarinya. Ibu jari yang terpatahkan itu dipasang pada jari-jari Harjuna sehingga ia lebih piawai lagi memanah, sementara Ekalaya kehilangan kehandalannya dalam memanah. Banyak kisah yang mengiringi Resi Durna di dalam perannya sebagai Mahaguru di Hastina. Termasuk kesuksesan anaknya Aswatama diperoleh dari Dewi Wilutama, yang meniti karir kemiliterannya, di group Pasukan Elite kerajaan Hastina Pura. (Sekian).

Iklan
  1. 2 Desember 2010 pukul 15:01

    Mas Haris,

    Seminggu yll saya kirim email dan contoh file wayang millennium episode Bambang Kumbayana. Saya sudah menyiapkan file semacam 4 seri episode tersebut.

    Apakah sudah di terima dan minta konfirmasinya. Terimakasih

    • 2 Desember 2010 pukul 20:26

      Saya ada 3 alamat email, yang mana Yangkung kirimi ya …
      saya cari belum ketemu
      Wassalam

  2. 3 Desember 2010 pukul 08:47
  3. 4 Desember 2010 pukul 06:24

    ceritanya bagus mas. harus ada sekuelnya nih 🙂

  4. 4 Desember 2010 pukul 11:03

    Kelicikannya berawal dari dendam kesumat, ya?

    • 4 Desember 2010 pukul 18:47

      Mungkin udah dari sononya dan ditambah peristiwaitu, Mas …

  5. 4 Desember 2010 pukul 15:15

    OOT, terima kasih sahabat, cerita wayang memang favorit saya.

    • 4 Desember 2010 pukul 18:39

      Trimakasih kembali Pak, mau nengok blog saya.

  6. 5 Desember 2010 pukul 12:39

    ntu gambar na keren banget, tpi og manggul pedang bukannya panah ??? 🙂 🙂 🙂

  7. 5 Desember 2010 pukul 12:41

    Kunjungan pertamax saya.. salam kenal mas.. 🙂

  8. 5 Desember 2010 pukul 17:29

    dalam wiracarita yang universal ini, menyimpan kisah tentang makna karakter tokohnya yang berhadapan dengan berbagai intrik kepentingan.
    Semoga bisa dijadikan cerminan untuk berbenah diri.
    SALAM hangat dari Kota Kendari. 🙂

  9. 5 Desember 2010 pukul 17:33

    cerita dengan seribu makna untuk dicamkan bersama. 🙂

  10. 5 Desember 2010 pukul 19:21

    dari cerita wayang, kita bisa ambil hikmahnya 🙂

  11. z4nx
    5 Desember 2010 pukul 21:05

    di wayang golek, kumbayana adalah tokoh yang dibenci banyak orang

  12. 5 Desember 2010 pukul 21:23

    kayakna bagus nih kalo cerita ini di komersilkan menjadi sebuah drama kolosal, siapa tahu ntar ada produser yang minat. 🙂

  13. 5 Desember 2010 pukul 21:53

    Wah, cerita wayang. Kebeneran banget. Dah lama gak nonton pagelaran wayang.

  14. 6 Desember 2010 pukul 10:30

    agy bw nh …

    siang … 🙂

  15. 6 Desember 2010 pukul 12:04

    wah, kurang ngerti. hehehehe.

    • 6 Desember 2010 pukul 21:01

      Ya, boleh sedikit-sedikit tar jai ngerti …

  16. 6 Desember 2010 pukul 12:47

    sebuah kisah tragis
    persahabatan sucitra (drupada) – kumbayana (durna)
    kisah yang akan terus berulang
    dari zaman ke zaman yang terus berputar
    salam sukses, nice story fren….

    sedj

  17. 6 Desember 2010 pukul 14:39

    nyimak dulu .. 😀

  18. 6 Desember 2010 pukul 15:05

    Haha ceritanya bagus! Dendam kesumat itu bahaya, haha 🙂

  19. 6 Desember 2010 pukul 19:16

    saya suka dengan kisah pewayangan pa’de 🙂

    • 6 Desember 2010 pukul 20:06

      Bagus, semoga lebih banyak lagi generasi muda yang suka cerita pewayangan.
      Salam dari Solo

  20. 6 Desember 2010 pukul 22:55

    ketika durna masih bernama bambang kombayana memang terbersit rasa iba juga, pak. namun, ketika setelah jadi durna, hmmm …. rasanya guru besar yang disandangnya tak semolek perilakunya yang cenderung diskriminatif. lole…lole… lole….

  21. 7 Desember 2010 pukul 14:14

    dh blom da yg bru ???

    🙂

  22. 8 Desember 2010 pukul 08:49

    Tokohnya mirip Hercules ya heheh 😆

  23. 16 Januari 2011 pukul 10:15

    sign me up

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: