Beranda > seni budaya > Kuda Sembrani itu Ternyata …

Kuda Sembrani itu Ternyata …


Bambang Kumbayana@Kisah Wayang

Syahdan di negeri Atasangin. Begawan Baratwaja sedang mengatur nafasnya yang memburu, setelah menuntaskan kemarahan terhadap putranya, Bambang Kumbayana. Kemarahan yang berujung pengusiran, karena Bambang Kumbayana dianggap lancang berucap ketika sedang diajak berdialog serius tentang masa depan putranya itu.

Rama, saya tidak akan menikah selamanya, jika tidak mendapatkan jodoh seorang Bidadari …” , demikian kalimat yang terlontar dari bibir Bambang Kumbayana, ketika disuruh ayahnya untuk segera mencari seorang isteri.

Tiada kata lain yang terucap selain sumpah serapah sang Begawan Baratwaja, disertai dengan pengusiran tanpa ampun. Perkataan Bambang Kumbayana dianggap pelecehan terhadap martabat bidadari. Maka sebelum kemarahan ayahnya memuncak dan mendaratkan bogem mentah di tubuhnya, Bambang Kumbayana segera melarikan diri meninggalkan Padepokan Argajembangan, pertapaan milik ayahnya itu.

Bambang Kumbayana sebenarnya pemuda yang berparas rupawan, sebagai  anak seorang Resi ia juga dibekali ilmu dan kesaktian. Tetapi perangainya yang kurang ajar itulah yang menyebabkannya tidak mendapat pujian.  Ditengah pelariannya, Bambang Kumbayana teringat akan saudara angkatnya, Bambang Sucitra yang dahulu berguru bersama di pertapaan Argajembangan. Bambang Kumbayana mendapat kabar bahwa sekarang ia berdomisili dan menjadi raja di Cempalaradya. Timbul keinginannya untuk menyusul saudara angkatnya itu dan ikut “ngemping kamulyan” di sana. Dalam perjalannya ternyata terhalang oleh sungai bengawan yang tak mungkin diseberanginya dengan berenang. Oleh karena keinginannya yang kuat untuk tiba di seberang bengawan itu, secara spontan Bambang Kumbayana berujar, seandainya ada yang bisa menolong dia menyeberangi sungai ini seorang laki-laki maka akan diangkat sebagai saudara, dan jika perempuan maka akan dijadikan istrinya. Begitu selesai terucap kalimat itu, secara tiba-tiba telah berdiri dihadapan Bambang Kumbayana seekor kuda bersayap atau pegassus/kuda sembrani yang mempersilakannya naik ke punggungnya untuk diseberangkan ke tepi bengawan. Tanpa berfikir panjang lagi, Bambang Kumbayana segera menaiki kuda sembrani itu. Di tengah perjalanan, kuda sembrani itupun menagih janji. Karena ia kuda perempuan, maka mintalah ia untuk dikawini. Merasa sudah tidak bisa menghindar lagi, dengan terpaksa Bambang Kumbayani mengawini kuda betina yang sebenarnya adalah penjelmaan seorang bidadari terkena kutukan menjadi kuda sembrani. Bethari Wilutama nama bidadari itu. Maka terjadilah perkawinan secara mendadak di angkasa (untuk detilnya, tidak bisa diutarakan di sini, khawatir di banned sama juragan). Sampailah perjalanan itu di seberang bengawan. Kuda sembrani itu mendarat dan menurunkan dua penumpang. Mengapa dua? Karena kuda sembrani itu telah melahirkan dari hasil perkawinannya dengan Bambang Kumbayana. Setelah berpesan kepada Bambang Kumbayana untuk merawat anak itu, kuda sembrani jelmaan Bethari Wilutama berubah kembali menjadi bidadari sesuai MOU dengan Dewa, bahwa kutukan itu berakhir setelah semua kisah tersebut di atas terjadi. Maka Bambang Kumbayana melanjutkan perjalanannya dengan bertambah beban, membawa bayi yang harus mendapatkan ASI. (Bersambung)

Sumber gambar DevianART

Iklan
  1. 30 November 2010 pukul 11:01

    sudah saya tautkan juga link mas. semoga kita selalu berbagi info.
    thanks banget mas 🙂

  2. 30 November 2010 pukul 18:53

    Loh, masak begitu begitu cepatnya menghasilkan keturunan. kayak gimana tuh prosesnya ??? hhe :mrgreen:

  3. 30 November 2010 pukul 19:08

    hahahaa…. kisah perwayangan dipadukan dengan dunia modern yang berbau bisnis hahahaa….

    keren mas… 🙂

  4. 30 November 2010 pukul 20:31

    walaupun sama kuda, kalau kudanya cantik kayak gambar di atas saya juga mau.. 😀

    di tunggu lanjutannya mas..

  5. 30 November 2010 pukul 20:53

    koq bersambung?????????????

  6. 30 November 2010 pukul 21:07

    Ceritanya bagus dan menarik sekali sobat….

  7. 30 November 2010 pukul 23:14

    wah, jadi inget ketika punawakawan ketemu dengan begawan durna, hiks. mereka selalu menyindir sang profesor saat kejadian dengan sang kuda sembrani itu, hiks.

  8. 1 Desember 2010 pukul 06:14

    Hahahah….ceritanya seru juga, sampai ada proses kawin di udara *tring-tring.. :mrgreen: Lanjut mas…

  9. desiisna
    1 Desember 2010 pukul 07:40

    met pagi kawan salam kenal ya

  10. 1 Desember 2010 pukul 08:03

    wah beruntung ya, ternyata kawinnya bukan ama kuda tapi ama bidadari 🙂

  11. 19 Desember 2010 pukul 13:16

    Kisah2 Mahabharata memang sangat menarik unuk digali.

  12. 24 November 2015 pukul 08:40

    Reblogged this on Ratansolomj9's Blog.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: