Beranda > seni budaya > Ki Lurah Petruk

Ki Lurah Petruk


Petruk adalah salah satu tokoh Panakawan. Panakawan atau biasa juga disebut Punakawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Panakawan merupakan abdi sekaligus penasihat spiritual bagi para satriya pinilih, selalu mendampingi tuannya kemanapun pergi dan dalam keadaan suka maupun duka. Jika tuannya dalam keadaan duka Panakawan berusaha menghibur dan melipur lara agar  tidak larut dalam kesedihan. Jika tuannya dalam keadaan suka, Panakawan juga mendampingi dan mengingatkan agar tidak hanyut terlalu jauh dalam kegembiraan. Panakawan adalah simbolisme dari kawula alit (rakyat kecil).

Ki Lurah Petruk

Petruk adalah salah satu anak dari Semar yang paling cool. Ia pernah menjadi raja bergelar Bel Geduel Bleh. Para satria yang pernah didampingi Panakawan antara lain Ramawijaya, Pandhu, Anak-anak Prabu Pandhu yaitu Pandhawa, khususnya Harjuna, dan masih ada lagi setelahnya. Konon Petruk adalah anak angkat Semar,  dipungut  dari orang tuanya yang berwujud gandarwa.

Iklan
  1. 7 November 2010 pukul 23:05

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Yup, satu2nya Punakawan yang pernah menjadi ratu.

    • 8 November 2010 pukul 14:43

      Oke Mas, tapi tadi nyasar di spam. Sekarang udah saya keluarkan … Terimakasih

  2. 8 November 2010 pukul 05:14

    bener bangett…
    ki lurah kantong bolong selalu menarik
    saya punya lakon Petruk Dadi Ratu
    di lakon semar mbangun kahyangan juga banyak muncul petruk
    salam sukses..

    sedj

    • 8 November 2010 pukul 14:39

      Bagus ya …
      Salam sukses kembali …

  3. 8 November 2010 pukul 08:53

    petruk mania Bung 😀

  4. 9 November 2010 pukul 07:49

    Saya pikir mereka dulu pelawak kerajaan…. hahahaahha…abis lucu-lucu komiknya, nice info mas…

    • 9 November 2010 pukul 14:03

      Bisa juga begitu Mas, hadirnya Panakawan memang selalu bikin suasana segar, karena kejenakaannya … Tanks

  5. 9 November 2010 pukul 08:06

    ‘Ikut Memelihara Budaya Bangsa agar Tetap Menjadi Bangsa yang Berbudaya’ ….

    wah setuju banget.. 🙂

    salam kenal nggih pak…

    • 9 November 2010 pukul 14:01

      Nggih …, hanya sedikit urun ala kadarnya …
      Salam kenal kembali Mas/Mba ….

  6. 9 November 2010 pukul 16:06

    Ohh i see, Petruk kebudayaan Jawa kan ya?

    • 10 November 2010 pukul 00:40

      Benar Bung, Budaya Jawa, dalam khasanah budaya Nusantara …

  7. 9 November 2010 pukul 21:00

    wah….ternyata petruk itu cool ya…he..he..he……baru tau saya….

    • 10 November 2010 pukul 00:37

      Ya, petruk memang cool … he ..he ..

  8. 9 November 2010 pukul 22:40

    kunjungan malam….!

    giliran ronda nich 😀 hehehe

    • 9 November 2010 pukul 23:47

      Oke, selamat meronda …
      Hati-hati jalan licin, abis hujan sih …
      Saya malah giliran ronda beneran ga bisa datang …

  9. 10 November 2010 pukul 11:16

    bluesuka lakon etruk…….heheh
    salam hangat

    • 11 November 2010 pukul 04:00

      Ya … Petruk memang Oke … he … he …

  10. 10 November 2010 pukul 19:45

    Ini kunjungan balik mas Haris. Matur nuwun rawuh panjenengan. di semesem.com

    Disini ada ki lurah Petruk di sana ada nala Gareng.
    Punakawan-2 yang setia, Sekarang pada prihatin kenapa para satria bendara-bendara ini makin berkurang sikap satria-nya. Dan pada hari Pahlawan ini kang Gareng mengeluarkan uneg-unegnya:…………………..

    cahayamu membuat bangsa ini bersinar
    hembusan nafasmu menebarkan aroma negri ini
    INDONESIA-ku ………

    tapi di sini masih banyak keangkara murkaan
    karena kerakusan
    karena keserakahan

    maafkan daku
    aku belum mampu wujudkan cita-cita luhurmu
    karena kerakusan
    karena keserakahan

    bisikkan ketelinganya
    jeritan sedihmu ketika itu
    tunjukkan luka nganga ditubuhmu masih terbuka

    rasanya kami kurang bersyukur untukmu
    karena terlalu ketat berebut kedudukan
    karena terlalu keras berebut uang
    maafkan kami semua
    PAHLAWANKU
    1O NOPEMBER 10

  11. 10 November 2010 pukul 19:48

    Mas Haris ini kunjungan balik Eyangkung.,
    Wah susah-susah tulis komentar kok tidak masuk, ya? ke kotak SPAMMER??

  12. 11 November 2010 pukul 22:01

    Tapi kalo ngamuk, mengerikan!
    Salam kenal!

    • 11 November 2010 pukul 23:31

      Yups, benar sekali …
      Salam kenal kembali …

  13. 12 November 2010 pukul 10:11

    Pak Haris,

    Dua kali saya menulis komentar disini. Ini yang ketiga. Tapi tidak pernah muncul. Masuk ke SPAM??

    • 12 November 2010 pukul 17:58

      Ngapunten Yang, memeang baru kali ini bisa masuk …
      Terimakasih telah berkunjung di blog sederhana ini …

  14. 13 November 2010 pukul 11:25

    Mas Haris,

    Mudah-2 an komentar ini lancar tidak masuk SPAM.
    Empat tahun saya tinggal di Solo, saya prihatin melihat seni budaya Jawa pertunjukan wayang orang SRIWEDARI penontonnya semakin susut. Sekarang tiap malam masih pentas. Saya berpikir kenapa budayawan kita tidak timbul gagasan misalnya menampilkan lakon-lakon diluar pakem. Sepanjang tidak bertentangan pakem yang sudah ada rasanya bisa dibenarkan. Misal;nya Bratasena yang selalu bicara ngoko dengan siapa saja. Cakil mesti kalah dengan satria.
    Sudah ada ketoprak humor dan itu menyedot penonton banyak. Kenapa tidak ada misalnya wayang orang reformasi. Tentu saja alur cerita harus ikut pakem yang sudah berjalan. hanya beberapa bagian diplesetkan. Banyak cerita lakon wayang yang bisa dibaurkan dengan kehidupan masa kini. Kita nyoba bikin lakon2 latar belakang wayang dibuat kisah semacam cerpen!! Dan kita coba dipublish di blog kita??

  15. 13 November 2010 pukul 17:48

    petruk ternyata memiliki multiwajah. ia bisa disimbolkan sbg kawula alit, tapi sekaligus juga menjadi simbol orang yang lupa asal-usulnya seperti dalam lakon “petruk dadi ratu”.

  16. 'Ne
    14 November 2010 pukul 07:54

    duluuu banget jaman saya SD pernah nemu komik yang isinya tentang punakawan atau sejenisnya.. ternyata mereka memang bvukan hanya sekedar pelawak dan penghibur biasa ya..

    • 14 November 2010 pukul 08:39

      Yang di komik tuh, saya rasa hanya ambil figurnya aja Mba’ … bukan karakter Panakawan tersebut … Salam hangat dari Solo …

  17. 15 November 2010 pukul 12:38

    Wah……,jadi tahu nih sejatinya punakawan terutama si petruk tu.

    OOT: kok saat2 ni petruk tu dilambangkan kehancuran ya,(Mitos meletusnya gun.merapi tu kan karena kepulan asap gunung berapi tu membentuk wujud petruk tu) kayak gitulah pokokna…..

    • 15 November 2010 pukul 21:15

      Iyah, konon menurut kepercayaan lokal, Kyai Petruk merupakan salah satu dari penunggu gunung Merapi …

  18. 8 Desember 2010 pukul 12:42

    wah petruk cool…mungkin kalau dia hidup dijaman sekarang banyak fans nya itu…:)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: