Beranda > seni budaya > Narasoma @ Cerita Wayang

Narasoma @ Cerita Wayang


Narasoma merupakan gambaran sifat manusia yang sombong.

Narasoma menduduki tahta kerajaan Mandaraka bergelar Prabu Salya. Prabu Salya masih mempunyai hubungan pertalian keluarga dengan Pandhawa. Kedekatannya dengan Pandawa karena suatu peristiwa sayembara yang diadakan untuk memperebutkan puteri raja negeri Mandura, ialah Dewi Kunti. Seperti dikisahkan sebelumnya, ketika diusir ayahnya narasoma pergi mengembara. Dewi Madrim, adik Narasoma sangat menyayangi kakaknya, dan belum habis kerinduannya terpaksa harus berpisah lagi maka menyusullah Madrim mengikuti kepergian Narasoma. Perjalanan Narasoma hingga sampai negeri Mandura yang saat itu sedang diadakan sayembara perang tanding memperebutkan Dewi Kunti. Sekaligus untuk menjajal ajian Candrabirawanya Narasoma mendaftar sayembara dan berhasil memenangi event itu. Pandhu yang saat itu juga datang berniat untuk mengikuti sayembara, ternyata sudah terlambat dan akan kembali pulang. Lagi-lagi Narasoma menampakkan keangkuhan dan kesombongannya. Ia menghentikan niat Pandu yang akan pulang dan menantangnya perang tanding. Tidak tanggung-tanggung sebagai taruhannya adalah Dewi Kunti dan adiknya Dewi Madrim. Semula Pandu tidak mau menanggapi tetapi karena Narasoma terus memaksa, tiada jalan lain kecuali melayani tantangan itu.

Pandhu sempat terdesak ketika Narasoma mengeluarkan ajiannya yaitu Candrabirawa. Dari tubuhnya keluar banyak sekali raksasa kerdil yang sangat ganas. Setiap kali dibunuh satu raksasa tidak berkurang malah bertambah banyak. Atas saran pamomongnya yaitu Semar, Pandu disarankan untuk pasrah menyerahkan diri pada Tuhan. Pandhu kemudian bersemadi dan ternyata serangan para raksasa kerdil itu menjadi lumpuh tak bertenaga. Narasoma mengakui kekalahannya dan diserahkannya Dewi Kunti dan Madrim untuk menjadi isteri Pandhu. Dari dua istrinya itu, Pandu mempunyai lima orang anak yang disebut Pandhawa lima. (ada kisah seru tentang roman percintaan Pandhu dengan Dewi Madrim)

Narasoma kemudian memutuskan untuk mengakhiri pengembaraannya dan kembali ke Mandaraka. Sesampainya di Mandaraka dikejutkan dengan kabar kematian yang mendadak ayahnya, Prabu Mandrapati. Kesedihan yang mendalam akan tewasnya Resi Bagaspati dan rasa penyesalannya karena merasa tidak dapat mendidik anak, menjadikan Mandrapati mengakhiri hidupnya untuk menyusul sahabatnya.

Narasoma menjadi raja didampingi isteri setianya Setyawati. Dari perkawinannya mempunyai lima orang anak tiga perempuan dan dua laki-laki.

Iklan
Kategori:seni budaya Tag:, ,
  1. 27 Oktober 2010 pukul 14:39

    Thnks untuk infonya kawan………….

    • 27 Oktober 2010 pukul 18:53

      Sama-sama, sobat sekedar pengisi waktu luang …

  2. 27 Oktober 2010 pukul 16:45

    wiracarita yang mengingatkan tentang sifat kesombongan itu akan hancur pada saatnya…

    • 27 Oktober 2010 pukul 16:49

      semoga kita bisa memetik hikmah dari cerita klasik ini…
      SALAM Hangat dari Kendari… 8)

    • 27 Oktober 2010 pukul 18:51

      Benar Bli Tu, kadang kesombongan mengalahkan akal dan budi …
      Salam hangat kembali dari solo

  3. 28 Oktober 2010 pukul 00:44

    hmmm… suka juga yach ma cerita wayang πŸ˜€

    mantab tuch… kyknya ada bakat buat jadi dalang pewayangan nich… hehehe….

  4. joe
    28 Oktober 2010 pukul 07:05

    wah, cerita wayang selalu penuh dengan pitutur buat manusia

    • 28 Oktober 2010 pukul 13:13

      Begitulah, memang wayang sangat inspiratif …

  5. 28 Oktober 2010 pukul 10:01

    Narasoma
    Tokoh wayang ini kau kupas πŸ™‚

    • 28 Oktober 2010 pukul 13:11

      Ya, tapi tapi hanya sebatas… dan belum tuntas …

  6. 31 Oktober 2010 pukul 00:54

    kunjungan malam sob….

    giliran ronda nich πŸ˜€ hehehe

    • 31 Oktober 2010 pukul 08:35

      Oke jangan lupa bawa lampu senter he …he …

  7. 6 November 2010 pukul 10:37

    ceritanya asik :mrgreen:

    • 6 November 2010 pukul 14:42

      Sekedar menuliskan kembali … Tanks atas atensinya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: