Beranda > seni budaya > Ketika Cinta Boleh Memilih II

Ketika Cinta Boleh Memilih II


Setyawati@ Cerita Wayang

 

Mendengar jawaban Narasoma , bergetar hati Setyawati. Ia mencoba merefleksi diri apakah dalam melayani Narasoma, suaminya tersebut ada yang kurang berkenan. Atau ada hal lain yang menjadi ganjalan di antara hubungan mereka. Memberanikan diri Setyowati bertanya.

” Gerangan apakah … yang menjadikan tak enak hati Kakanda? Tolong katakan terus terang,  agar Adinda memamahaminya …” Bujuk Setyowati kepada Narasoma.

Dengan berat hati Narasoma mengungkapkan isi hatinya kepada Setyowati, istrinya. Setyowati pun tanggap akan makna yang terangkum dalam kalimat, yang pada intinya Narasoma merasa malu mempunyai ayah mertua yang berwujud Buta (raksasa).

Memang keterlaluan ya si Narasoma, udah ngedapetin anaknya yang cantik, kagak mau sama ayahnya yang ….huft dasar …

Setyawati perempuan yang lugu, menyampaikan hal itu kepada ayahnya Bagaspati. Bagaspati seorang resi yang luhur budi, sudah tidak menginginkan kenikmatan duniawi. Demi mendengar perkataan Setyowati, tak sedikitpun ia kecewa, dengan suara yang berwibawa, malahan ia menyuruh Setyowati memilih.

” Setyowati anakku, sebenarnya … Yanda tahu,  hal itulah yang selama ini membuat Narasoma bermuram hati. Maka sekarang tetapkanlah pilihanmu … engkau pilih ayah atau suami …”

Ternyata Setyowati memilih suami. Bangga hati Bagaspati mendengar jawaban itu bahwa ternyata Setyowati adalah seorang istri yang setia.

” Baiklah anakku, sekarang katakan pada Narasoma suamimu, ayah telah siap meninggalkan dunia ini demi kebahagiaanmu, dengan syarat Narasomalah yang mengantarkan kematianku …”

Singkat cerita. Telah berhadapan Resi Bagaspati dengan Narasoma.

” Narasoma, kau merasa malu mempunyai ayah sepertiku … aku rela mati demi anakku, dengan syarat, jangan kau madu Setyowati kelak setelah kau meninggalkan pertapaan ini …” demikian ungkap Bagaspati.

Narasoma menyanggupi permintaan Bagaspati, dan segera menghunus keris andalannya, menusukkan ke tubuh Bagaspati. Namun jangankan mati, tergorespun tidak tubuh Bagaspati. Ternyata Bagaspati lupa bahwa ia masih mempunyai ajian yang belum dilepaskannya. Maka sekaligus ia mewariskan ilmunya kepada Narasoma . ilmu kesaktian itu bernama Candrabirawa. Jika ia merapalnya akan keluar raksasa kerdil dalam jumlah seribu dan mengeroyok musuhnya. Setelah itu, Narasoma menusukkan kerisnya ke siku Bagaspati dimana terletak titik lemahnya. Nyawa bagaspatipun melayang, bersamaan itu terdengar suara di angkasa menggema.

” He … Narasoma, ingat hari pembalasanku … saat perang Bharatayuda digelar nanti kau akan menebus perbuatanmu ini. Maut akan menjemputmu dengan perantaraan Pandawa ..”

Tertegun Narasoma, namun semuanya telah terjadi. Keangkuhan hatinya telah mengalahkan akal budi. Memisahkan kasih sayang seorang ayah dengan anak yang dikasihi. Dan sudah menjadi suratan bagi Dewi Setyowati, bahwa ternyata CINTA harus/boleh memilih, dan pilihan dijatuhkan pada sang suami.

Narasoma meninggalkan pertapaan Hargabelah yang kini sepi, pulkam menuju kerajaan Mandaraka dimana ayahnya telah lama menanti. ( Sekian)
Notes : kematian Resi Bagaspati membuahkan kemarahan ayah Narasoma (Mandrapati/raja Mandaraka) karena ternyata Bagaspati adalah sahabat baiknya. Dan diusirlah Narasoma dari istana. Karena kesedihan yang mendalam akhirnya Mandrapati meninggal dunia. Tahta kerajaan Mandaraka kemudian digantikan Narasoma dengan memakai gelar baru Prabu Salya .

Iklan
Kategori:seni budaya Tag:, , ,
  1. 22 Oktober 2010 pukul 02:52

    certita yang mengharu biru, penuh misteri, saat rasa cinta harus menyisihkan hal lainnya yang lebih manusiawi…

    SALAM hangat dari Kendari… 🙂

    • 22 Oktober 2010 pukul 07:11

      Mungkin dari situ ada ungkapan bahwa “cinta itu buta” ya Blii …

  2. 22 Oktober 2010 pukul 07:20

    wah..seneng nulis cerita juga ya?
    salam kenal..
    kunjungan balik

    • 22 Oktober 2010 pukul 10:57

      Wookey … terimakasih yach, salam sukses selalu ….

  3. 22 Oktober 2010 pukul 10:16

    trus si setyowatinya kemana atuh?
    😀
    lagi donk ceritanya aku suka cerita kerajaan

    • 22 Oktober 2010 pukul 10:54

      Oke deh, kita cari feeling dulu … he … he …

    • 22 Oktober 2010 pukul 11:03

      Setyowati Setia mendampingi sang suami, hingga akhir hayat … bahkan berbela pati di padang Kurusetra, ketika Prabu Salya gugur di medan pertempuran … Begitiuuu, di ajeng …

  4. 22 Oktober 2010 pukul 13:35

    Ih, dasar juga Putri Setyawati!

    Kok bisanya milih suami, kalau aku sih milih ayahku aja dech..
    Duh….dasar ini cerita, kenapa g dibikin happy ending, he he he

    • 22 Oktober 2010 pukul 20:40

      Beda Setyowati dengan Pendar Bintang dong ….

      • 27 Oktober 2010 pukul 11:56

        kalo aq milih duaduanya hihihi

  5. 23 Oktober 2010 pukul 01:35

    kira2 bakalan ada yg part 3 ga yah???? salam

    • 23 Oktober 2010 pukul 07:54

      wkk ..kk … , nyindir apa beneran nih ….

  6. 23 Oktober 2010 pukul 02:11

    Bagi seorang istri, suami adalah sorganya, jadi betapa terhormatnya jika seorang istri lebih memilih suaminya dari pada orang tuanya.
    salam…

    • 23 Oktober 2010 pukul 07:53

      hmmh …, Terimakasih atas sharingnya ….

  7. 23 Oktober 2010 pukul 02:12

    seru juga nich ceritanya!
    klo saya yg jadi pemeran utamanya, dijamin ga terkalahkan dech 😀 hehehe….

    • 23 Oktober 2010 pukul 07:50

      Wah … gitu yach, masalahnya jamannya Fir’aun ama mahabarata ga ada ketemunya seh …

  8. Adi
    23 Oktober 2010 pukul 04:53

    Ceritanya kolosal 😀 ayo lanjutkan, jarang2 ada yang seperti ini.

    • 23 Oktober 2010 pukul 07:49

      Tanks atas atensinya, just keep writing …

  9. 24 Oktober 2010 pukul 13:42

    mendayu dayu.. 🙂

  10. 24 Oktober 2010 pukul 15:54

    Cinta dalam cerita wayang seru juga

    • 24 Oktober 2010 pukul 16:26

      Cerita ppewayangan memang penuh inspirasi … Tanks

  11. 24 Oktober 2010 pukul 16:02

    kisahnya oke dan saya suka. kisah pewayangan, tetapi ditulis dalam konteks kekinian. salam budaya!

    • 24 Oktober 2010 pukul 16:25

      Terimakasih atas kunjungan dan atensinya, salam budaya

  12. 24 Oktober 2010 pukul 16:28

    Wah……..,sungguh keterlaluan itu narasoma, dasar anak gak tau diuntung…. 😦

    • 24 Oktober 2010 pukul 17:28

      Betul gan …, tapi omong2 seandainya terjadi pada diri qt ….??

      • 26 Oktober 2010 pukul 18:35

        kalo aku mah Realistis aza deh, masak mau anaknya gak mau ortunya. tu mah namanya amat sangat TERLALU

      • 26 Oktober 2010 pukul 20:34

        Oke, saya salut akan pendirian anda …

  13. 25 Oktober 2010 pukul 00:40

    kunjungan malam….

    salam 😀

  14. 25 Oktober 2010 pukul 08:53

    Sedih rasanya
    Lanjutkan! 🙂

  15. 25 Oktober 2010 pukul 17:36

    tiulisan tentang wayang selalu menarik saya
    ini kisah cinta narasomma dan setyawati
    sangat menyentuh
    ending bagaspati juga sangat inspiratif
    salam sukses..

    sedj

  16. 26 Oktober 2010 pukul 20:17

    Yang gini ini bikin saya rada tahu cerita pewayangan. Tapi ngomong2 apa yang terjadi dengan setyawati? Apakah narasoma benar2 menepati janjinya untuk tidak memadu setyawati?

    • 26 Oktober 2010 pukul 20:32

      oke sobat, nanti saya coba lanjutannya …

  17. 6 November 2010 pukul 10:42

    apapun keadaan seseorang, kita jangan mencelanya. karena kita pun tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kita besok. 1menit, 2 menit, setelah ini pun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita…

    • 6 November 2010 pukul 14:41

      Ya, betul sekali …
      Ada peribahasa kuman di seberang mata keliata, gajah di pelupuk mata tak kelihatan …Tanks

  18. 21 November 2015 pukul 19:39

    Reblogged this on Ratansolomj9's Blog.

  19. 11 Juli 2017 pukul 04:23

    Reblogged this on Padamara88's Blog.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: