Beranda > seni budaya > Cinta yang Terlarang III

Cinta yang Terlarang III


Saat itu di Pasewakan Agung sedang dilaksanakan pertemuan penting dihadiri oleh segenap bupati dari semua wilayah kerajaan Pajang. Dengan tergopoh-gopoh dan sambil menangis emban Inya memasuki ruang pasewakan agung,  melaporkan peristiwa yang terjadi di puri kaputren.

“ Katiwasan … Gusti …, Katiwasan Gusti!” pekik emban itu di hadapan Sultan Hadiwijaya.

“ Ada apa biyung emban …cepat katakan apa yang terjadi! Jangan merusak acara pasewakan ini!” Hardik Sultan kepada Emban Inya.

Cinta yang Terlarang III

Sumber gambar : Sad Girl by hopeless soul.jpg

Bak bunyi halilintar di siang bolong demi mendengar kejadian yang menimpa putri kesayangannya., setelah emban melaporkan dengan gamblang semua peristiwa yang terjadi. Api amarah berkobar di dalam dada Sultan Hadiwijaya, dengan mengepalkan tangan dan terdengar kertak gigi disertai tatapan matanya seakan hendak membakar semua yang ada di hadapannya. Serta merta diperintahkannya dua orang nayaka praja Suratanu dan Surakerti untuk mengerahkan pasukan Sandiyuda, mengepung puri kaputren. Tumenggung Mayang beserta istrinya saat itu juga hadir di istana sehingga mereka mengetahui perihal yang menyangkut diri anaknya.

Semua penghuni puri kaputren tak terkecuali emban-emban yang bertugas menjaga keselamatan Putri Sekar Kedaton menggigil ketakutan. Mereka sepakat untuk mati bersama junjungannya jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan menimpanya. Sementara yang ada di dalam kamar yaitu Putri Sekar Kedaton berpegangan erat lengan Raden Pabelan. Putri berpesan agar Raden Pabelan tidak keluar dari dalam kamar kecuali yang mendatangi ayahandanya sendiri. Surakerti Lurah Tamtama pasukan Sandiyuda membujuk dari luar kamar agar Raden Pabelan mau menyerahkan diri dan ia yang akan menanggung keselamatannya karena Sultan Hadiwijaya telah memberikan wewenang penuh untuk menyelesaikan masalah ini. Surakerti juga mengatakan bahwa Tumenggung Mayang juga memberitahukan bahwa yang ada di dalam puri kaputren adalah   Raden Pabelan anaknya.

Merasa mendapat secercah harapan,maka Raden Pabelan tidak mengindahkan pesan sang putri dan menguatkan niatnya untuk menuruti perintah Surakerti. Putri Sekar Kedaton tak kuasa menahan keinginan Raden Pabelan, dengan berat hati dilepaskan genggamannya. Begitu pintu kamar terbuka, Ngabehi Wirantanu menyuruh emban pengasuh membawa Sang Putri masuk ke dalam kedaton. Segenap pintu keluar sudah dijaga rapat oleh pasukan Sandiyuda dan sebagian lagi merangseg maju mengepung Raden Pabelan berjaga-jaga jika hendak meloloskan diri. Raden Pabelan melangkah hendak menghaturkan sembah pada Ngabehi Surakerti. Saat ia berjongkok, tanpa diduga oleh Raden Pabelan dua orang prajurit Sandiyuda secepat kilat menghujamkan keris ke lambung kanan dan kiri Raden Pabelan. Disusul oleh parajurit yang lain bertubi-tubi menghujamkan senjatanya ke tubuh Raden Pabelan, tersungkur dengan tubuh bersimbah darah tetapi di bibirnya tersungging senyum kepuasan. Kemudian tubuh yang sudah tak bernyawa itu dibuang begitu saja ke kali Laweyan.

Kedua orang tuanya hanya dapat menyaksikan nasib yang dialami anaknya. Dalam hati Tumenggung Mayang merasa menyesal telah menjerumuskan anaknya sendiri ke lembah kematian. ( selesai)

 

Cerita tentang Raden Pabelan ditulis dengan referensi dari berbagai sumber.

 

Note :

Nama Raden Pabelan terabadikan untuk nama sebuah kampung di Solo terletak di sebelah Selatan Kampus UMS. Jasad Raden Pabelan saat itu terbawa arus sungai hingga ke desa Solo, dan oleh Ki Gede Solo jenasah itu dimakamkan secara semestinya. Tempat ditemukannya mayat Raden Pabelan itu kemudian dikenal dengan nama kampung Batangan dari kata bathang (mayat).

Iklan
  1. 15 Oktober 2010 pukul 04:20

    OOOh, jadi begitu ceritanya……

    • 15 Oktober 2010 pukul 04:45

      Iya …, klo bersambung terus tar jadi senetron deh … he … he …

  2. 15 Oktober 2010 pukul 19:23

    Wah tragis sekali ending-nya. Tapi saya bertanya-tanya, kenapa saat tersungkur si Raden tersenyum puas?? Apakah karena berhasil ‘mendapatkan’ putri? Padahal jelas-jelas dia kalah.
    Sangat disayangkan akhirnya Raden meninggal dengan jalan seperti itu, coba kalau perang tanding mungkin lebih jantan.
    Hehe..saya kok malah ngomel ya. ?? hihi..
    ~ two thumbs up for this strory ~

    Saya tunggu kalau ada cerita lainnya. terima kasih ya..

    • 15 Oktober 2010 pukul 22:31

      Ada berbagai kemungkinan untuk mengartikan senyum kepuasan di akhir hidup R Pabelan
      – pertama ia merasa puas telah berhasil mencuri harta yang paling berharga di keraton Pajang
      – kedua ia telah mewujudkan keinginan ayahnya.
      perlu ditambahkan bahwa ayah R Pabelan mempunyai misi yang diemban dari Mataram untuk meruntuhkan Pajang dari dalam, dan kematian R Pabelan merupakan awal dari rentetan penyebab keruntuhan Pajang.

  3. 15 Oktober 2010 pukul 20:23

    Raden Pabelan bibirnya tersungging senyum kepuasan
    puas kenapa yaa…..
    atau bangga karena setelah kematian, namanya diabadikan jd nama tempat…

    • 16 Oktober 2010 pukul 00:56

      Ya ga senaif itulah yaw, kemungkinan arti senyuman di akhir hidupnya dapat anda tengok pada coment di atas …

  4. 16 Oktober 2010 pukul 08:51

    Keknya ceritanya asyiknih sayang bekum membaca yang pertama dan kedua. Balik lagi ah nanti sambil baca sebelumnya 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • 16 Oktober 2010 pukul 10:03

      silakan menikmati hidangan, di pondok nan sederhana ini …
      moga ga kapok mampir kesini …
      jabat erat dan salam hangat kembali

  5. 16 Oktober 2010 pukul 12:12

    kisah legendaris yang sangat miris…membuat hati seperti teriris…

    • 16 Oktober 2010 pukul 16:07

      Sebuah roman sejarah yang memuat pesan moral. Antara hitam dan putih, tinggal jalan mana yang
      mesti kita pilih …
      Salam persahabatan dari Solo

  6. 17 Oktober 2010 pukul 11:06

    Raden Pabelan mati dengan begitu banyak hujaman keris
    Ini sebuah resko dari apa yang telah dilakukannya

    • 17 Oktober 2010 pukul 20:39

      Mungkin klo jaman sekarang, bisa dilakukan loby antar ortu …

  7. 17 Oktober 2010 pukul 12:14

    Salm kenal,, kunjungan balik nh ..

    Kisah yang tragis,, q belm baca kisah sebelumnya .. ntar ku baca dh ..

    • 17 Oktober 2010 pukul 20:40

      Silakan menikmati hidangan ala kadar di pondok sederhana ini, Mba’ ….

  8. 17 Oktober 2010 pukul 15:55

    ntar judulnya Cinta Terlarang Abad 21

  9. 17 Oktober 2010 pukul 20:41

    Boleh tuh …

  10. 20 November 2010 pukul 23:06

    kulo nembe mireng crito puniko lho, pak. kados romeo & juliet nopo roro mendut-pronocitro..

    • 21 November 2010 pukul 06:04

      Inggih Mas, Romeo&Juliet di era Pajang … he… he … Tks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: