Beranda > seni budaya > Cinta yang Terlarang I

Cinta yang Terlarang I


Jika dua hati telah bertaut, dan panah dewa asmara telah memperoleh sasarannya maka tak ada lagi yang dapat memisahkan, bahkan tembok istana yang kokohpun tak dapat menghalanginya.  Dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu tak lain adalah Raden Pabelan dengan putri Sultan Hadiwijaya, sekar kedaton Pajang.

Berawal dari dialog Raden Pabelan dengan ayahandanya Tumenggung Mayang menanyakan perihal masa depan anak laki semata wayangnya itu.

“ Anakku Pabelan …, umurmu sudah menginjak 30 tahun, dan orang tuamu sudah sangat merindukan untuk menimang cucu. Tunjukkan pada ayahmu gadis mana yang hendak kau pinang, ngger …” Demikian ucap Tumenggung Mayang.

” Maafkan hamba ayahanda, tetapi saya masih ingin melajang …” Jawaban Raden Pabelan sungguh membuat hati Tumenggung Mayang sangat terpukul.

Raden Pabelan diharapkan oleh ayahnya untuk menjadi penerus cita-cita sebagai Trahing kusuma rembesing madu, menjadi satriya yang pilih tanding. Namun harapan orang tua itu rupanya bertepuk sebelah tangan. Raden pabelan lebih mementingkan kesenangan pribadi, dengan bermodal ketampanannya tak ada gadis yang menolak untuk menerima obralan cintanya. Yah … Play Boy adalah julukan yang tepat untuk disandangnya. Karena malu yang yang tak terperikan dan harapan untuk masa depan anaknya terasa sudah suram, terbersit keputusan yang gegabah Tumenggung Mayang. Dengan tidak berpikir panjang ia berencana menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang kesengsaraan.

“ Pabelan, engkau adalah anakku … darah satriya mengalir di tubuhmu. Kalau engkau menurut kataku, akan ayah tunjukkan masa depan yang cerah di hadapanmu …” Kata Tumenggeng Mayang lagi.

“ Apakah itu, Ayahanda …?” Tanya Pabelan.

“ Datangilah Putri sekar kedaton di keputren dan ayahmu akan membantumu, niscaya kesenangan dan kebahagiaan akan tergelar di depanmu ….” Dalam hati Tumenggung Mayang bergolak antara ambisi pribadi dan mengorbankan anaknya untuk memuluskan jalan.

Singkat cerita, melalui emban putri sekar kedaton Raden Pabelan mengirimkan surat cinta yang dikirimkan dalam bungkusan bunga kenanga dan cempaka sebagai untaian cintanya. Gayungpun bersambut, dan sang puteri langsung membalas surat cintanya dengan mengundang Raden Pabelan masuk ke dalam keputren. Berbekal ilmu yang diajarkan oleh ayahnya, Raden Pabelan tak menunggu waktu lama lagi ia segera menanggapi undangan sang puteri. Tembok istana yang kokoh terbuka setelah diraba dengan mantra yang diajarkan ayahnya, Tumenggung Mayang. Dua sejoli bertemu, gairah asmara telah menuntun mereka berdua melalui jalan cinta yang terlarang. Raden Pabelan menyadari bahwa jika hubungan mereka diketahui, tiada kata lain selain dijatuhkannya hukuman mati. Hal itupun diutarakannya pada sang puteri, namun dengan lemah lembut puteri sekar kedaton Pajang menyatakan bahwa ia akan membela dengan sepenuh jiwa jika sampai Ayahandanya yaitu Sultan Hadiwijaya sampai tahu dan murka karenanya. (Bersambung)

Iklan
  1. 6 Oktober 2010 pukul 22:29

    Perlu perenungan , kenapa masih ada juga cinta yang dilarang, padahal hakikat cinta itu suci, tidak harus memiliki.
    SALAM hangat dari Kendari… 8)

    • 6 Oktober 2010 pukul 22:30

      Ketika cinta itu dijalankan dengan niat untuk saling mengisi dan memberi, maka semua itu sah-sah saja.

      • 6 Oktober 2010 pukul 22:31

        Semoga cerita cinta berikutnya menjadi lebih baik lagi.
        SALAM hangat dari Kendari.. 8)

    • 7 Oktober 2010 pukul 06:10

      Kalau hal ini terjadi pada jaman sekarang, termasuk pelanggaran HAM …he …he…he….Mungkin begitu ya Blii

  2. 10 Oktober 2010 pukul 12:42

    Sejak dahulu beginilah Cinta, Penderitaanya Tiada akhir………..,
    Loh kok……,hehehe

    • 10 Oktober 2010 pukul 13:39

      Tapi juga ada kok kisah cinta yang happy ending, contohnya … buanyak …

      • 15 Oktober 2010 pukul 05:23

        Moga salah satunya juga Aku…….,

  3. 'Ne
    10 Oktober 2010 pukul 13:02

    mas kenapa terlarang? apakah puteri sekar kedaton pajang udah bersuami? di tunggu lanjutannya ya mas hehe.. saya suka cerita jaman2 dulu dan wayang juga hehe..

    • 10 Oktober 2010 pukul 13:37

      Lanjutannya baru dalam proses …, sabar ya …

  4. 15 Oktober 2010 pukul 04:13

    baaru selesai yang pertama…

    lanjut yg kedua….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: