Beranda > seni budaya > Alat tulis jadul

Alat tulis jadul


Kalau mengingat alat sekolah jaman dahulu khususnya alat tulis, sungguh sangat primitive jika dibandingkan dengan alat tulis masa kini. Anak sekolah jaman sekarang membawa tas yang sarat dengan buku-buku pelajaran dan buku tulis untuk mencatat atau mengerjakan tugas/ulangan. Bahkan ada sekolah yang mengharuskan siswanya untuk memiliki  note book/laptop sebagai kelengkapan sekolahnya. Bagaimana dengan anak sekolah jaman dahulu?

Saya pernah mengalami sekolah menggunakan alat tulis yang disebut dengan sabak. Nama itu mungkin sangat asing di telinga anak sekolah jaman sekarang, tetapi tidak bagi yang bersekolah dan duduk di  sekolah dasar pada era 60 an. Sabak dan grip merupakan alat tulis yang lazim digunakan sebagai ganti buku tulis pada saat itu. Mungkin waktu itu keberadaan buku tulis sangat langka atau kalau ada harganya juga mahal.

sumber gambar: barangtempodoeloe.blogspot.com

Sabak harus selalu berdampingan dengan grip. Sabak sebagai media untuk menulis sedangkan grip adalah alat tulisnya maka sampai sekarang tempat menyimpan pensil atau balpen disebut doosgrip, seharusnya kan doospen ya …

Jadi kalau mengerjakan tugas atau ulangan ya sabak itulah yang digunakan. Dengan menggoreskan grip yang runcing di permukaan sabak, akan menghasilkan bekas seperti menulis pada kertas menggunakan pensil, tetapi agak lebih jelas dari pensil. Menulis huruf, membuat angka pada pelajaran berhitung dan menggambarpun dengan menggunakan sabak dan grip. Bagaimana kalau mencatat? Itulah kelebihan anak sekolah jaman dahulu. Tidak mempunyai catatan, tetapi memahami pelajaran. Ingatan dan pendengaran sangat memegang peranan. Saat diterangkan guru mendengarkan dengan seksama dan menyimpan semua penjelasan guru dalam ingatan sebagai catatan.

Mengerjakan ulangan di sabak tidak terdokumenter seperti kalau mengerjakan di buku tulis. Setelah dinilai oleh guru permukaan sabak itu harus dihapus kembali sampai bersih. Lalu bagaimana menunjukkan hasil ulangan pada orang tua? Ada seni tersendiri untuk menunjukkan hasil ulangan. Setelah usai dinilai guru, biasanya menggunakan kapur tulis, nilai itu ditempelkan di pipi kanan atau kiri. Begitu pulang sekolah, sampai di rumah ditunjukkan dengan bangga nilai ulangan itu pada orang tua. Tentunya menempelkan nilai hasil ulangan di pipi kalau mendapat nilai bagus, paling tidak nilai 8 ke atas.

Ya, itulah kenangan sekolah di era kelangkaan buku tulis.

Iklan
  1. 17 September 2010 pukul 02:07

    kalau gripnya sdh pendek karena habis dipakai nulis, disambungi dengan kertas digulung, ha ha h h nostalgia zaman bayhula, salam dari tetangga mj9 thank q

    • 18 September 2010 pukul 00:10

      Trimakasih Mas Yulius, atas kunjungannya. Memang begitulah nostalgia jaman dulu.

  2. 1 November 2011 pukul 21:46

    Karena sebentar-sebentar harus dihapus, mungkin karena itu ingatan anak-anak jaman dulu lebih baik ya…

  3. 31 Desember 2016 pukul 19:45

    unik sekali ya alat tulis jaman dulu..

    • 27 Januari 2017 pukul 19:59

      Terimakasih atas atensi dan kunjungannya 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: