Beranda > seni budaya > Sriwedari Riwayatmu Kini

Sriwedari Riwayatmu Kini


Dahulu Taman Sriwedari dikenal dengan nama ”  Bonrojo” kependekan dari kata kebon rojo yang artinya taman raja. Di Taman Sriwedari kala itu terdapat berbagai sarana hiburan atau rekreasi, antara lain kebon binatang (dipindahkan ke Taman Jurug), Segaran (danau buatan), gedung bioskop, gedung wayang orang, panggung ketoprak, beberapa warung dan rumah makan.

 

 

segaran

 

Sekarang Taman Sriwedari menjadi bahan polemik yang tak kunjung selesai setelah beberapa kali sidang pengadilan tentang hak atas tanah di areal Taman Sriwedari tersebut antara pemkot Surakarta dan para ahli warisnya.

Iklan
Kategori:seni budaya
  1. 5 September 2010 pukul 10:08

    salam kenal mas, apa dhasare yo wis kenal, selamat datang didunia maya, semoga tambah pengalaman dan sukses

    • 7 September 2010 pukul 15:52

      Salam kenal kembali Mas Ngatirin, sama-sama sukses!

  2. 7 September 2010 pukul 14:17

    Matur suwun sampun mampir teng blog kule. http://anisganteng.wordpress.com/
    Jenengan solone sakingpundi mas, mojosongo nggih?

  3. 14 September 2010 pukul 08:07

    terima kasih atas kunjung baliknya …blog anda juga keren …

  4. 20 September 2010 pukul 13:55

    Sayang banget jika aset publik kayak gini akhirnya malah menjadikan sengketa yang tiada kunjung terselesaikan
    Tahun berapa ya saya terakhir ke sana?

    • 20 September 2010 pukul 23:51

      Ya, sekarang tinggal lagi kenangan, di atas segaran telah berdiri sebuah restoran megah ….

    • 20 September 2010 pukul 23:55

      Ya, sriwedari tinggal lagi kenangan, sekarang di atas segaran telah berdiri sebuah restoran megah ….

      • 4 Oktober 2010 pukul 23:08

        amat disayangkan….

      • 5 Oktober 2010 pukul 17:41

        Yach …

  5. 21 September 2010 pukul 06:54

    Jadi ingat cerita pewayangan, ketika sokasrana memindahkan taman sriwedari yang dibalas dengan kematian oleh kakaknya sendiri.

    • 21 September 2010 pukul 12:30

      Ya, memang nama taman Sriwedari itu ngambilnya dari cerita pewayangan. seru ya kisahnya, syahdu sekaligus tragis … Terimakasih atas kunjungannya di blog saya yang sangat sederhana ini.

  6. 23 September 2010 pukul 23:00

    dulu, sejak pertama kali tau taman hiburan ya di sriwedari, sejak kecil ke tempat eyang di surakarta, sekarang entah bagaimana, solo jadi terlalu banyak modernitas. terlalu banyak mall, sehingga taman rakyat saja tak diurus.

    • 25 September 2010 pukul 20:44

      Terima Kasih Mas, atas kunjungannya dan moga gak kapok kunjung ke sini. Sekarang tinggal di mana Mas?

  7. 25 September 2010 pukul 04:37

    berkunjung lg stelah sekian lama gak berkunjung, pa kbr?

    • 25 September 2010 pukul 20:42

      Oke! Makasih Mas, senang sekali atas kunjungan anda. Tanks

  8. 27 September 2010 pukul 03:48

    taman hiburan rakyat sekarang memang mengenaskan
    rakyat sudah menemukan hiburan sendiri di rumah
    padahal disini budaya lokal bisa terpelihara.
    semoga ke depan bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat
    salam sukses..

    sedj

    • 7 Oktober 2010 pukul 16:57

      Ya, masyarakat memang memerlukan tempat hiburan yang berbudaya. Salam sukses juga …

  9. 1 Oktober 2010 pukul 06:43

    Sayang, seharusnya sriwedari jadi cagar budaya, apalagi berdirinya dulu sudah lama..

  10. 1 Oktober 2010 pukul 16:06

    betul, semoga polemik itu segera terselesaikan dan menjadi jelaslah nasib Sriwedari. Tanks

  11. 4 Oktober 2010 pukul 07:25

    Kasihan ya..kenapa hal-hal seperti ini banyak sekali terjadi. Kenapa baru sekarang ada polemik seperti ini…

    Salam kenal..maaf baru sempat berkunjung.
    🙂
    Salam dari Bali

    • 4 Oktober 2010 pukul 12:11

      terima kasih telah berkunjung di blog saya yang sederhana ini …

  12. 6 Oktober 2010 pukul 07:13

    Sayang sekali, harusnya taman wisata budaya seperti ini, sama2 dilestarikan untuk kenangan anak cucu… 🙂

    moga cepet selesai polemiknya dan kembali damai

    • 6 Oktober 2010 pukul 12:51

      ya, semoga demikian yang terjadi untuk Taman Sriwedari, dan terima kasih ya … kunjungannya.

  13. 7 Oktober 2010 pukul 14:04

    wah……..,sungguh amat sangat disayangkan sekali.seharusnya tempat semacam itu dilestarikan atau dikembangkan lebih lanjut dari pihak pemerintah bukannya malah dijadikan sarana bisnis dan kepentingan perorangan. apa gak mikir anak cucu nya kelak gak bakal mengerti dan mnegetahui warisan budaya dan peradaban leluhur kita.

    • 7 Oktober 2010 pukul 17:02

      Begitulah Broo, kadang ego mengalahkan hal yang lebih urgent … Thanks

  14. 8 Oktober 2010 pukul 03:14

    Trus gmn???

    Hm….ikutan bingung dan sedih 😦

    • 8 Oktober 2010 pukul 14:25

      udah jangan sedih … dan bingung, kita serahlan Yang Di Atas aja … Tanks.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: